Lintaskabar.id, Opini – Pada dasarnya, kota-kota besar selalu diuji oleh satu hal yang tampak sepele, tetapi diam-diam menentukan masa depannya: sampah. Ia tidak pernah benar-benar hilang. Sebaliknya, ia hanya berpindah tempat—dari rumah ke jalan, dari jalan ke truk, hingga akhirnya ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Di sana, sampah menumpuk, membusuk, dan pada titik tertentu menjadi masalah yang tidak lagi bisa disembunyikan.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Kini, Makassar sedang berada di titik itu.

Tekanan TPA Antang dan Batas Sistem Lama

Seiring waktu, volume sampah yang terus meningkat telah melampaui kapasitas pendekatan lama. Akibatnya, sistem kumpul-angkut-buang yang selama ini diandalkan mulai menunjukkan batasnya.

Sementara itu, TPA Antang yang sejak lama menjadi sandaran kota, kini memikul beban yang semakin berat. Bahkan, ia bukan lagi sekadar tempat pembuangan, melainkan simbol dari cara kita yang belum selesai dalam memperlakukan sampah.

PSEL: Harapan Baru di Tengah Krisis

Di tengah kondisi tersebut, muncul satu gagasan yang terdengar menjanjikan sekaligus menantang, yaitu Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL). Program ini ditetapkan sebagai Proyek Strategis Nasional (PSN) dan mulai diarahkan untuk segera terealisasi di Makassar.

Namun demikian, pertanyaannya tetap sama: apakah ini benar-benar solusi, atau hanya penundaan masalah dengan wajah baru?

Cara Kerja dan Potensi PSEL

Secara umum, PSEL menawarkan sesuatu yang selama ini dicari—yakni cara untuk mengurangi sampah sekaligus menghasilkan manfaat. Melalui teknologi termal seperti insinerasi, sampah dibakar pada suhu tinggi untuk menghasilkan energi panas yang kemudian diubah menjadi listrik.

Dengan demikian, volume sampah dapat berkurang hingga 80–90 persen. Bagi kota seperti Makassar, hal ini bukan sekadar angka, melainkan harapan nyata untuk memperpanjang umur TPA serta mengurangi tekanan lingkungan.

Dorongan Pemerintah dan Arah Kebijakan Nasional

Oleh karena itu, tidak mengherankan jika pemerintah pusat mendorong percepatan proyek ini. Dalam rapat koordinasi nasional yang diikuti Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, ditegaskan bahwa PSEL merupakan bagian dari langkah besar dalam menangani kedaruratan sampah.

Lebih lanjut, arahan Presiden untuk mempercepat implementasi di berbagai kota menunjukkan bahwa persoalan ini tidak lagi bisa ditangani dengan cara biasa. Dalam hal ini, Makassar pun menyatakan kesiapan.

Antang sebagai Lokasi Strategis

Selanjutnya, salah satu opsi yang mengemuka adalah pembangunan fasilitas PSEL di kawasan TPA Antang, Kecamatan Manggala. Jika dilihat dari sisi teknis dan ekonomis, pilihan ini cukup masuk akal.

Di satu sisi, infrastruktur dasar sudah tersedia. Di sisi lain, aliran sampah telah terpusat, sehingga risiko konflik sosial relatif lebih kecil dibandingkan membuka lokasi baru.

Risiko Lingkungan yang Harus Dijawab

Meski demikian, setiap solusi besar selalu diiringi pertanyaan besar. PSEL bukan tanpa risiko.

Sebagai contoh, kekhawatiran mengenai emisi seperti dioksin dan furan sering menjadi alasan penolakan masyarakat. Oleh sebab itu, isu ini tidak boleh diabaikan. Sebaliknya, harus dijawab melalui transparansi, penggunaan teknologi terbaik, serta pengawasan yang ketat.

Tantangan Karakter Sampah di Indonesia

Selain itu, terdapat persoalan mendasar terkait karakter sampah di Indonesia. Umumnya, sampah didominasi oleh bahan organik dengan kadar air tinggi.

Akibatnya, nilai kalor menjadi rendah, sehingga proses pembakaran tidak selalu efisien. Tanpa pengelolaan awal yang baik, maka efektivitas PSEL pun dapat menurun.

PSEL Bukan Solusi Tunggal

Dengan demikian, penting untuk dipahami bahwa PSEL hanyalah bagian dari sistem, bukan pengganti sistem.

Jika hanya mengandalkan PSEL tanpa memperkuat pengurangan dan pemilahan sampah dari sumbernya, maka masalah di hulu tetap akan berkembang. Bahkan, berpotensi muncul ketergantungan terhadap pasokan sampah.

Peran 3R sebagai Fondasi Utama

Oleh karena itu, PSEL harus ditempatkan dalam kerangka prinsip reduce, reuse, recycle (3R). Artinya, yang utama adalah mengurangi produksi sampah, kemudian memanfaatkan kembali, dan mendaur ulang.

Sementara itu, PSEL berfungsi untuk mengolah residu yang tidak lagi bisa ditangani.

Peran Masyarakat Tidak Bisa Ditinggalkan

Di samping itu, peran masyarakat menjadi sangat krusial. Tanpa kesadaran memilah sampah dari rumah dan mengurangi plastik sekali pakai, maka sistem tidak akan berjalan optimal.

Dengan kata lain, kota tidak bisa bekerja sendiri.

Aspek Sosial dan Keadilan Transisi

Lebih jauh lagi, aspek sosial juga perlu diperhatikan. Ada kelompok masyarakat yang menggantungkan hidup dari aktivitas memilah sampah.

Oleh sebab itu, kehadiran PSEL harus tetap mempertimbangkan mereka melalui pendekatan pemberdayaan. Dengan demikian, transisi menuju sistem baru dapat berjalan secara adil.

Momentum Perubahan untuk Makassar

Jika seluruh prasyarat tersebut terpenuhi, maka PSEL berpotensi menjadi titik balik bagi Makassar. Tidak hanya dalam mengurangi sampah, tetapi juga dalam membangun sistem yang lebih modern dan berkelanjutan.

Ujian Keseriusan dan Konsistensi

Pada akhirnya, PSEL menjadi ujian keseriusan. Apakah benar-benar ingin menyelesaikan masalah, atau sekadar terlihat bergerak?

Meskipun dukungan kebijakan dan teknologi telah tersedia, yang paling menentukan adalah konsistensi dalam pelaksanaannya.

Mengubah Cara Pandang tentang Sampah

Sebagai penutup, perlu disadari bahwa energi terbesar dari PSEL bukan hanya listrik, melainkan perubahan cara pandang terhadap sampah itu sendiri.

Dengan demikian, sampah tidak lagi dianggap sebagai akhir, melainkan bagian dari siklus yang harus dikelola secara bertanggung jawab.

PSEL bisa menjadi langkah maju. Namun, hal itu hanya akan bermakna jika diiringi perubahan perilaku, tata kelola yang baik, serta komitmen jangka panjang.

Oleh : Azikin

(Pemerhati Persampahan Kota Makassar, Pegiat Ecoenzym)