JAKARTA —”Jangan Ambil Hak Orang Lain!” petuah sederhana ini, yang ditanamkan sejak kecil oleh orang tua Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, menjadi fondasi kuat dalam hidupnya.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Prinsip tersebut tak hanya menjauhkannya dari godaan korupsi, tetapi juga menjadi nilai utama dalam karier dan bisnisnya yang kini sukses besar.

Dalam episode kedua Kick Andy Special Guest, Amran membagikan kisah hidupnya yang penuh inspirasi.

Sejak kecil, ia dididik untuk selalu menjunjung kejujuran. Salah satu momen berkesan adalah ketika ia dan saudaranya menemukan uang Rp5 di pasar.

Alih-alih merasa bangga, sang ayah justru marah dan memberi hukuman.

“Itu bukan hak kalian,” kata ayahnya, sebelum mengantar mereka mengembalikan uang tersebut. “Pesan itu terus melekat hingga kini,” ungkap Amran, belum lama ini.

Saat menjabat sebagai menteri, Amran pernah ditawari dana hingga Rp1 triliun. Namun, ia dengan tegas menolak karena merasa itu bukan hasil jerih payahnya.

Bahkan, Amran memutuskan untuk menutup perusahaan racun tikus miliknya yang sangat menguntungkan demi menghindari konflik kepentingan.

“Perusahaan itu saya tutup permanen karena berhubungan dengan jabatan saya. Hidup ini harus sejalan dengan prinsip,” tegasnya.

Meski dikenal sukses dan memiliki aset besar melalui TIRAN Group, Amran menolak label “kaya raya.”

Ia lebih memilih menggambarkan dirinya sebagai “cukup.” Lebih dari itu, ia tidak pernah menggunakan gaji sebagai pejabat untuk kepentingan pribadi. “Gaji saya sumbangkan untuk anak yatim. Bagi saya, itu lebih berarti,” katanya.

Bahkan, saat bepergian untuk kunjungan kerja menggunakan jet pribadi, ia memastikan semua biaya berasal dari kantongnya sendiri, bukan dari anggaran negara.

“Apa yang saya lakukan ini kecil dibandingkan pengorbanan para pahlawan kita. Mereka menyerahkan nyawa, saya hanya menyerahkan materi,” paparnya.

Amran tumbuh di keluarga sederhana. Ayahnya, seorang abdi negara, berjuang keras menghidupi 12 anak.

Di usia 9 tahun, Amran mulai bekerja, menggali batu di gunung untuk membantu keluarga. “Saya tahu rasanya hidup sulit. Itu yang membentuk saya menjadi pekerja keras.” Katanya.

Kini, di balik kesuksesannya, Amran tetap memegang prinsip bahwa semua yang ia miliki hanyalah titipan Allah.

“Dulu, kami miskin dan sering dihina. Saya bertekad, meski lahir miskin, saya tidak akan mati miskin. Itu tanggung jawab saya kepada keluarga dan Tuhan.”tuturnya.

Amran percaya, kesuksesan tidak datang secara instan. “Beranilah berproses. Sukses tanpa proses itu rapuh,” katanya.

Ia pun mendorong siapa saja untuk bermimpi besar dan bekerja keras demi mencapai apa yang diinginkan.

Kisah Amran Sulaiman adalah bukti bahwa prinsip, kejujuran, dan kerja keras adalah kunci untuk membangun hidup yang bermakna dan sukses.**