Lintaskabar.id, Makassar – Pusat Kolaborasi Riset Kepiting Berkelanjutan (PKR-KB) menggelar Workshop Nasional bertajuk “Merancang Sistem Akuasilvikultur Kepiting Berbasis IMTA: Dari Pemulihan Nutrien hingga Penilaian Karbon Biru” di ruang rapat LPPM Universitas Hasanuddin, Sabtu (27/6).
Workshop ini bertujuan mendorong budidaya kepiting yang lebih produktif, ramah lingkungan, dan berkelanjutan.
Kegiatan tersebut diikuti akademisi, peneliti, mahasiswa, praktisi, dinas perikanan, pembudidaya, dan pemerhati lingkungan. Mereka membahas cara mengembangkan budidaya kepiting agar hasilnya meningkat sekaligus menjaga ekosistem pesisir.
Budidaya Kepiting Harus Jaga Lingkungan
Ketua PKR-KB, Prof. Dr. Ir. Yushinta Fujaya, yang juga Guru Besar Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan Universitas Hasanuddin, mengatakan budidaya kepiting tidak cukup hanya mengejar hasil panen.
Menurutnya, budidaya juga harus memberi manfaat bagi lingkungan dan masyarakat pesisir.
“Budidaya kepiting harus mulai dipandang sebagai bagian dari ekosistem pesisir. Sistem budidaya yang baik bukan hanya menghasilkan kepiting, tetapi juga mampu mengurangi limbah, memulihkan kualitas lingkungan, mendukung konservasi mangrove, serta berkontribusi terhadap ekonomi biru.”
IMTA Manfaatkan Limbah Budidaya
PKR-KB juga memperkenalkan konsep Integrated Multi-Trophic Aquaculture (IMTA). Melalui sistem ini, limbah organik dari budidaya dimanfaatkan kembali sebagai sumber nutrien bagi organisme lain dalam satu kawasan.
Cara ini membuat penggunaan sumber daya lebih efisien sekaligus mengurangi dampak terhadap lingkungan.
Peserta juga mempelajari manfaat mangrove dalam mendukung budidaya kepiting. Mangrove membantu menjaga siklus nutrien, melindungi habitat pesisir, dan menyimpan karbon biru (blue carbon).
Selain itu, peserta mempelajari hubungan antara desain tambak, tutupan mangrove, daya dukung lingkungan, hingga perhitungan karbon di kawasan budidaya.
Perhitungan Ilmiah Jadi Dasar
Narasumber utama, Prof. Dr. Ir. Bambang Widigdo dari Institut Pertanian Bogor (IPB), menegaskan bahwa sistem akuasilvikultur harus disusun berdasarkan perhitungan ilmiah.
“Perancangan sistem budidaya berbasis IMTA membutuhkan perhitungan mengenai rasio mangrove dan kolam, neraca nutrien, daya dukung lingkungan, hingga estimasi karbon agar sistem yang dibangun benar-benar efisien sekaligus berkelanjutan.”
Setelah pemaparan materi, peserta mengikuti praktik menghitung nutrient budget, carbon budget, dan daya dukung lingkungan.
Di akhir workshop, peserta dibagi ke dalam beberapa kelompok untuk menyusun model budidaya kepiting berbasis IMTA yang dapat diterapkan di berbagai wilayah pesisir Indonesia.
PKR-KB berharap workshop ini memperkuat kerja sama antara perguruan tinggi, pemerintah, industri, dan masyarakat dalam mengembangkan budidaya kepiting yang ramah lingkungan, mendukung pelestarian mangrove, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir.
PKR-KB juga menegaskan komitmennya untuk terus mengembangkan inovasi berbasis riset sebagai acuan pengembangan akuasilvikultur kepiting di Indonesia. (Ag)







