Lintaskabar.id, Opini – Selama ini, masyarakat sering melihat sampah hanya sebagai angka statistik. Namun, kondisi nyata menunjukkan ancaman serius yang layak disebut “bom waktu ekologis”.
Data nasional 2024 mencatat timbulan sampah mencapai 33,8 juta ton. Dari jumlah itu, 13,6 juta ton atau 40,1% belum terkelola dan mencemari lingkungan.
Di Makassar, pemerintah menghadapi situasi lebih mendesak. Kota ini menghasilkan 1.000–1.300 ton sampah per hari. TPA Tamangapa menampung beban tersebut, meski lahannya terbatas dan tinggi sampah sudah mencapai 16–17 meter. Jika tidak ditangani, kapasitas TPA diperkirakan penuh dalam waktu kurang dari dua tahun.
Ancaman bagi Pariwisata
Lebih jauh, krisis ini tidak hanya berdampak pada sanitasi, tetapi juga mengancam pariwisata. Industri ini menuntut kebersihan dan kesehatan lingkungan.
Mengacu pada standar Global Sustainable Tourism Council (GSTC), pengelolaan sampah menjadi syarat utama destinasi berkelanjutan. Akibatnya, citra kota sangat bergantung pada kebersihan. Jika lingkungan kotor, wisatawan akan berpaling dan pemulihan citra memerlukan waktu lama.
Teknologi Waste to Energy Jadi Solusi
Untuk mengatasi hal ini, pemerintah mendorong teknologi Waste-to-Energy (WtE). Program PSEL di TPA Tamangapa menggabungkan pengelolaan sampah dengan produksi energi.
Pemerintah melalui RUPTL PLN 2025–2034 menargetkan kapasitas PLTSa sebesar 452,7 megawatt. Teknologi insinerasi, pirolisis, dan gasifikasi memungkinkan sampah diubah menjadi energi sekaligus menekan emisi berbahaya. Negara seperti Swedia, Jepang, dan Jerman telah membuktikan keberhasilannya.
Ekonomi Sirkular Perkuat Solusi
Selain itu, pemerintah dan masyarakat perlu menerapkan ekonomi sirkular. Konsep ini mendorong pemanfaatan limbah agar tetap bernilai.
Hotel, restoran, dan rumah tangga dapat mengolah limbah organik menjadi kompos atau pakan maggot. Dengan cara ini, mereka mengurangi sampah sekaligus menciptakan nilai ekonomi. Maggot digunakan untuk pakan ternak dan ikan, sementara sisa olahan menjadi pupuk.
Peran Komunitas dan Ketahanan Pangan
Selanjutnya, masyarakat memegang peran penting. Yayasan Butta Porea Indonesia melalui gerakan “Tanami Tanata” mengajak warga membersihkan lingkungan dan memanfaatkan lahan kosong.
Gerakan ini memperkuat ketahanan pangan lokal. Warga dapat menanam sayur, buah, dan tanaman obat menggunakan pupuk organik dari sampah.
Dampak bagi Pariwisata Berkelanjutan
Di sisi lain, langkah ini mendukung pariwisata. Hasil pertanian warga dapat masuk ke rantai pasok hotel sehingga memperkuat ekonomi lokal.
Selain itu, kawasan pengolahan sampah dan kampung hijau dapat menjadi wisata edukasi. Sementara itu, pengelolaan sampah non-organik membuka peluang ekonomi kreatif melalui produk daur ulang.
Sinergi Menuju Makassar Bebas Sampah
Pada akhirnya, target “Makassar Bebas Sampah 2029” membutuhkan sinergi pemerintah, masyarakat, dan industri. Pemerintah harus mengoptimalkan teknologi, sementara masyarakat dan pelaku usaha menjalankan prinsip 3R secara konsisten.
Dengan langkah tersebut, pengelolaan sampah tidak hanya mengurangi limbah, tetapi juga menjadi investasi bagi citra kota. Makassar berpeluang menjadi destinasi pariwisata berkelanjutan yang kompetitif jika mampu mengelola sampah secara inovatif dan kolektif.
Oleh : Dr. Islahuddin, M.Si., CHE.
(Dosen Poltekpar Makassar / Pengamat Pariwisata & Lingkungan)






