MAKASSAR — Pengangguran di Sulawesi Selatan menunjukkan tren peningkatan yang mengkhawatirkan. Hal ini diungkapkan oleh pengamat ekonomi dari Universitas Bosowa (Unibos) Makassar, Lukman Setiawan yang menilai bahwa persoalan ini tidak bisa disederhanakan karena bersifat kompleks dan multifaktorial.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

“Bukan satu dua penyebab, tapi banyak faktor yang saling berkaitan,” kata Lukman dalam keterangannya, Kamis  (10/7).

Menurutnya, inflasi menjadi salah satu pemicu utama. Lonjakan harga barang dan jasa mendorong kenaikan biaya produksi dan menurunkan daya saing produk lokal, yang pada akhirnya berdampak pada pengurangan tenaga kerja.

Di sisi lain, pertumbuhan jumlah penduduk yang cepat juga menambah beban pasar kerja.

“Jika angkatan kerja bertambah tapi lapangan kerja tidak bertambah sepadan, pengangguran tak terhindarkan,” jelas Lukman.

Lukman Setiawan juga mengungkapkan bahwa faktor pendidikan juga tak kalah penting. Ia menyebut masih banyak tenaga kerja yang belum memiliki keterampilan dan pendidikan memadai, sehingga sulit bersaing di dunia kerja yang semakin selektif.

Ditambah lagi, pertumbuhan ekonomi yang stagnan dan suku bunga tinggi yang menghambat investasi semakin memperparah kondisi.

Untuk mengatasi hal ini, Lukman menekankan perlunya langkah strategis dan terpadu dari pemerintah daerah.

“Solusinya harus menyentuh akar masalah: perbaiki kualitas pendidikan, buka ruang investasi dengan regulasi yang memudahkan, dan ciptakan ekosistem usaha yang menyerap tenaga kerja lokal,” ujarnya.

Dengan pendekatan yang menyeluruh, Lukman optimistis Sulawesi Selatan dapat membalikkan tren pengangguran dan membangun fondasi ekonomi yang lebih inklusif.

Penulis: Anugrah