MAKASSAR — Transaksi non-tunai di Sulawesi Selatan melalui layanan BI FAST mencatat lonjakan signifikan selama Triwulan II 2025.
Fenomena ini tidak hanya mencerminkan perubahan pola konsumsi masyarakat, tetapi juga menjadi sinyal kuat kebangkitan ekonomi digital di daerah ini.
Pengamat Ekonomi Universitas Bosowa (Unibos) Dr. Lukman Setiawan menilai peningkatan transaksi digital tersebut membawa sejumlah dampak positif bagi perekonomian Sulsel, terutama dari sisi efisiensi dan inklusi keuangan. Dengan proses transaksi yang lebih cepat dan murah, pelaku usaha dan masyarakat kini bisa beraktivitas lebih produktif.
“Transaksi non-tunai ini memperluas akses layanan keuangan, terutama bagi mereka yang sebelumnya belum tersentuh sistem perbankan formal,” ujar Dr. Lukman Setiawan.
Tak hanya itu, lonjakan ini dinilai turut mendorong pertumbuhan ekonomi daerah, seiring meningkatnya aktivitas perdagangan dan arus investasi berbasis digital.
Masyarakat Makin Melek Keuangan Digital
Tingginya adopsi BI FAST juga menjadi pertanda bahwa masyarakat Sulsel semakin melek terhadap teknologi finansial. Mobile banking, dompet digital, dan layanan keuangan berbasis aplikasi kini menjadi bagian dari keseharian banyak warga.
“Ini bukan sekadar tren, tapi transisi menuju budaya ekonomi digital yang lebih efisien dan aman,” lanjutnya.
Namun Tantangan Masih Mengadang
Meski prospeknya cerah, tren ini juga menyisakan sejumlah tantangan penting, terutama dari sisi infrastruktur digital dan keamanan transaksi. Jaringan internet yang belum merata serta potensi kebocoran data menjadi perhatian serius bagi keberlanjutan ekonomi digital di Sulsel.
“Perlu investasi berkelanjutan pada teknologi dan edukasi keamanan digital agar manfaat BI FAST benar-benar dirasakan semua lapisan masyarakat,” tambahnya.
Penulis: Anugrah







