MAKASSAR — Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, menerima kunjungan silaturahmi dari Pengurus Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Makassar di ruang kerjanya, Kamis (23/10).

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Pertemuan tersebut membahas rencana pelaksanaan kegiatan Kelas Progresif bertema “Reformasi Jalan Perlawanan” yang digagas oleh HMI Makassar, sekaligus memperkuat kolaborasi antara pemerintah dan organisasi kepemudaan dalam mendukung pembangunan kota.

Dalam kesempatan itu, Munafri menegaskan pentingnya peran pemuda sebagai agen perubahan, terutama dalam isu-isu strategis seperti kebersihan lingkungan, pemberdayaan ekonomi masyarakat, peningkatan kompetensi tenaga kerja, serta pemanfaatan digitalisasi.

Ia mengajak HMI berpartisipasi aktif dalam penanganan permasalahan sampah melalui program Bank Sampah Pemuda, dengan menekankan bahwa persoalan kebersihan tidak dapat diselesaikan pemerintah semata.

 

“Saat ini, Makassar menghasilkan sekitar 100 ton sampah per hari, dan 60 persen di antaranya merupakan sampah organik,” jelasnya.

Munafri menambahkan, untuk pengelolaan sampah plastik, terdapat empat pabrik daur ulang berkapasitas 50 ton per hari yang siap menampung bahan plastik layak olah dari masyarakat.

“Sampah plastik punya nilai ekonomi. Pabrik mau membeli antara Rp5.000 hingga Rp11.000 per kilogram. Kalau ini dikelola dengan baik lewat bank sampah, perputaran uang bisa terjadi di masyarakat,” terangnya.

Ia juga memaparkan bahwa Pemkot Makassar telah menerapkan sistem pengelolaan sampah terintegrasi dari rumah tangga hingga ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA).

Empat metode utama diterapkan di tingkat RT/RW, yakni pembuatan komposter rumah tangga, produksi eco-enzyme, budidaya maggot, serta pembuatan teba modern (lubang pengolahan sampah komunal).

“Target kami tahun 2027 adalah rumah tangga zero waste. Mulai tahun depan, sampah rumah tangga yang tidak dipilah tidak akan diangkut petugas kebersihan. Ini sistem reward and punishment,” tegasnya.

Sebagai contoh, Munafri menuturkan kisah pelaku ekonomi sirkular di Kecamatan Panakkukang yang mampu memproduksi 600 kilogram maggot per hari, dengan kebutuhan sekitar 3 ton sampah organik setiap harinya.

“Sampahnya dikirim dari Pasar Kalimbu dan Pasar Terong. Hasil maggotnya dijadikan pakan lele dan ayam, diolah menjadi tepung, bahkan dijual hidup,” jelasnya.

Munafri juga mengungkapkan langkah pemerintah dalam mengurangi beban TPA Tamangapa, yang kini menampung timbunan sampah setinggi 17 meter di atas lahan seluas 19,1 hektare.

Pemkot Makassar, lanjutnya, tengah mendorong dua proyek energi berbasis sampah, yakni Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) dan Refuse-Derived Fuel (RDF) sebagai pengganti batu bara.

“Kementerian Lingkungan Hidup menyampaikan, jika ada pabrik semen dalam radius 50 kilometer, RDF bisa dijual dan menjadi pendapatan daerah,” ungkapnya.

Selain isu lingkungan, Munafri juga mendorong kolaborasi dengan HMI dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui program Training Hub di Makassar Creative Hub (MCH), pusat pelatihan keterampilan kreatif bagi anak muda.

“Training Hub bukan hanya milik pemerintah. Teman-teman HMI bisa membangun Training Hub sendiri. Pemerintah justru mendorong organisasi kepemudaan agar punya pusat pelatihan mandiri,” ujarnya.

Ia menambahkan, program tersebut telah membantu banyak anak muda memperoleh pekerjaan maupun membangun usaha berbasis komunitas.

“Banyak yang mengira program ini eksklusif, padahal tidak. Semua terbuka, bahkan perusahaan datang langsung mencari tenaga kerja fresh graduate di sana,” katanya.

Di akhir pertemuan, Munafri mengapresiasi inisiatif kegiatan Kelas Progresif HMI, dan berharap kegiatan tersebut menghasilkan aksi nyata bagi masyarakat.

“Saya mengajak HMI tidak hanya berbicara soal perubahan, tetapi juga turun langsung ke lapangan. Mari kita bangun Makassar bersama,” tutupnya.

Penulis: Ardhi