MAKASSAR –Universitas Hasanuddin (Unhas) kembali mencetak sejarah dengan mengukuhkan tiga guru besar baru dari Fakultas Pertanian dan Fakultas Ilmu Budaya dalam sebuah Rapat Paripurna Senat Akademik yang berlangsung khidmat di Kampus Tamalanrea, Makassar, pada Selasa kemarin.
Acara yang dimulai pukul 08.30 Wita ini tak hanya dihadiri oleh jajaran pimpinan Unhas, tetapi juga disaksikan secara daring melalui kanal YouTube Senat Akademik.
Momen bersejarah ini melibatkan tiga akademisi terkemuka yang kini resmi menyandang gelar profesor. Mereka adalah Prof. Dr. Ir. Rismaneswati, S.P., M.P., dari Fakultas Pertanian dengan keahlian di bidang Survei dan Evaluasi Lahan, Prof. Dr. Ir. Amir, M.Si., ahli Agroklimatologi dari Fakultas Pertanian, serta Prof. Dr. Harlinah Sahib, M.Hum., yang fokus pada Linguistik Antropologi di Fakultas Ilmu Budaya.
Dalam sambutannya, Wakil Rektor Bidang Kemitraan, Inovasi, Kewirausahaan, dan Bisnis, Prof. Dr. Eng. Adi Maulana, S.T., M.Phil., menyampaikan harapannya bahwa penambahan guru besar ini akan semakin memperkuat kontribusi Unhas, baik di kancah internasional dalam rangka menuju World Class University (WCU), maupun dalam memberikan dampak langsung kepada masyarakat.
“Kami berharap para guru besar ini dapat berperan lebih signifikan, bukan hanya dalam pengembangan akademik, tetapi juga sebagai agen perubahan bagi masyarakat luas,” ujarnya.
Masing-masing guru besar menyampaikan orasi ilmiah yang menggambarkan kedalaman pengetahuan di bidangnya. Prof. Rismaneswati mengusung topik tentang evaluasi kesesuaian lahan untuk pertanian berkelanjutan, menekankan pentingnya optimalisasi lahan untuk produksi yang efektif dan berkelanjutan. Sementara itu, Prof. Amir membahas prediksi iklim dengan pendekatan tradisional dan modern untuk mendukung produktivitas pertanian di Sulawesi Selatan.
Prof. Harlinah menyoroti hubungan antara bahasa, budaya, dan pemikiran masyarakat Kajang, memperlihatkan bagaimana bahasa mencerminkan dan membentuk kebudayaan.
Pengukuhan ini sekaligus menjadi bukti komitmen Unhas dalam mencetak ilmuwan berkelas dunia yang tak hanya berkontribusi pada ilmu pengetahuan, tetapi juga pada kehidupan masyarakat.**







