GOWA—Bupati Gowa, Sitti Husniah Talenrang, menghadiri kegiatan Gerakan 1.000 Katto-katto yang digelar oleh Pemerintah Kecamatan Bontonompo di Desa Bontolangkasa Selatan, Jumat kemarin.
Kegiatan ini sekaligus dirangkaikan dengan acara Halal Bihalal bersama masyarakat setempat.
Dalam sambutannya, Husniah menyampaikan apresiasi atas inisiatif Kecamatan Bontonompo dalam menghidupkan kembali tradisi lama sebagai upaya menjaga keamanan lingkungan.
Ia menilai penggunaan katto-katto sebagai alat pendeteksi dini kejahatan sudah jarang ditemukan saat ini, sehingga sangat relevan untuk mendukung Program 100 Hari Kerja “Gowa Aman” yang akan segera dilaunching di tingkat kabupaten.
“Saya menyambut baik Gerakan 1.000 Katto-katto ini karena sejalan dengan program prioritas kami, yakni Gowa Aman/Masannang. Alat tradisional ini menjadi langkah antisipasi dini untuk mencegah tindak kejahatan di desa dan kelurahan hingga kecamatan. Saya berharap, gerakan ini bisa disosialisasikan ke seluruh kecamatan di Kabupaten Gowa,” ujar Bupati Gowa.
Lebih lanjut, Husniah berharap tradisi ronda malam yang mulai dihidupkan kembali melalui gerakan ini dapat memperkuat sinergi masyarakat dengan pihak keamanan, seperti TNI-Polri, Binmas, dan Babinsa dalam menjaga situasi aman dan kondusif di wilayah masing-masing.
Bupati Gowa juga mengimbau agar gerakan ini dapat dicontoh oleh kecamatan lain di seluruh Kabupaten Gowa.
Selain sebagai langkah nyata menjaga keamanan lingkungan, tradisi Katto-katto juga bisa menjadi media edukasi bagi generasi muda tentang pentingnya menjaga keamanan bersama.
“Semua kecamatan harus bisa mengadopsi gerakan seperti ini. Jangan hanya sebatas simbol, tapi harus disertai edukasi kepada masyarakat, khususnya anak-anak, tentang makna katto-katto sebagai tanda dini adanya kejadian yang perlu diwaspadai. Ini cara kita bersama membantu aparat keamanan menjaga kampung kita,” tambahnya.
Camat Bontonompo, Muhammad Syahrir, menyampaikan bahwa gerakan ini lahir dari keresahan masyarakat atas potensi gangguan keamanan di lingkungan sekitar.
Dengan menghadirkan kembali alat tradisional Katto-katto, diharapkan dapat menciptakan rasa aman dan nyaman di tengah masyarakat.
“Kejahatan yang terjadi di sekitar kita tentu membuat resah. Alhamdulillah, lewat program ini, kami bisa kembali mengaktifkan katto-katto seperti masa lalu. Satu pukulan di satu titik, bisa terdengar ke titik lain, sebagai bentuk deteksi dini,” pungkasnya.
Katto-katto merupakan alat tradisional terbuat dari bambu, yang dulunya kerap digunakan untuk permainan musik rakyat sekaligus sebagai alat komunikasi sederhana dan peringatan dini terhadap ancaman keamanan di tingkat desa dan kelurahan.
Penulis: Natan







