SINGAPURA — Universitas Muslim Indonesia (UMI) dan National University of Singapore (NUS) menggelar seminar bersama bertajuk “The Maritime Heritage of Singapore and Sulawesi”, Rabu kemarin, di NUS Libraries, Kent Ridge Crescent, Singapura.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Acara ini menjadi panggung penting bagi upaya pelestarian warisan maritim Bugis-Makassar yang menghubungkan dua kawasan penting di Asia Tenggara.

Seminar ini menjadi istimewa dengan kehadiran langsung Wakil Presiden ke-6 dan ke-10 Republik Indonesia, HM Jusuf Kalla, sebagai tamu kehormatan.

Ia hadir bersama sejumlah akademisi dan peneliti terkemuka dari UMI dan NUS.

Dalam sambutannya, Jusuf Kalla menegaskan bahwa masyarakat Bugis-Makassar telah memainkan peran signifikan dalam sejarah awal Singapura.

Ia menyebut pelaut Bugis sebagai kelompok pertama yang menginjakkan kaki di pulau itu, jauh sebelum kedatangan bangsa Eropa.

“Masyarakat Bugis sudah datang lebih dulu ke daratan ini sebelum Singapura menjadi seperti sekarang,” ujar JK.

Ia juga menyinggung empat nilai utama dalam budaya Bugis macca (cerdas), warani (berani), magetteng (teguh), dan malempu’ (jujur) sebagai fondasi etika kepemimpinan dan kekayaan budaya yang patut dijaga.

Seminar ini mengangkat topik utama manuskrip “Daeng Paduppa”, catatan historis seorang pedagang Bugis, serta beragam materi dari Repositori Bugis-Makassar.

Kegiatan ini merupakan kolaborasi antara Perpustakaan NUS, Departemen Kajian Asia Tenggara NUS, dan Universitas Muslim Indonesia.

Dibuka dengan penampilan budaya oleh kelompok Amanca Tumasek, acara berlanjut ke dua sesi seminar yang membahas hukum maritim, jaringan perdagangan, kolonialisme, dan ingatan budaya. Beberapa topik menarik yang diangkat antara lain:

“The Amana Gappa Code: Cultural Logic and Maritime Law” oleh Prof. Dr. Ir. Muh Hattah Fattah (UMI)

“The Daeng Paduppa Text: Insights into a Bugis Trader’s World” oleh Dr. HM Ishaq Samad (UMI)

“Decolonising Maritime Knowledge: Text, Context, and Challenges” oleh Ms. Nur Diyana (NUS)

“Preserving the Ilmu Pasompe: Knowledge of the Seafarer” oleh Dr. Sitti Rahbiah (UMI)

Rektor UMI, Prof. Dr. H. Hambali Thalib, SH, MH, menyampaikan bahwa seminar ini merupakan kontribusi UMI dalam memperingati 60 tahun Kemerdekaan Singapura dan 200 tahun persahabatan masyarakat Bugis-Makassar dengan rakyat Singapura.

“Laut bukanlah batas, melainkan penghubung peradaban. Sejarah pelaut Bugis-Makassar mengajarkan kita arti kolaborasi lintas wilayah dan bangsa sebagai warisan, bukan sekadar tuntutan zaman,” ujar Prof. Hambali.

Ia berharap kolaborasi UMI dan NUS akan terus berkembang melalui riset ilmiah yang mendalam tentang warisan maritim, membangun koneksi budaya antar generasi muda Indonesia dan Singapura, serta memperkuat posisi kawasan ASEAN dalam sejarah dan pembangunan maritim global.

Penulis: Anugrah