Lintaskabar.id, Sudan – Puluhan Ribu warga Sudan kembali harus meninggalkan rumah mereka di tengah meningkatnya konflik bersenjata antara tentara pemerintah dan Pasukan Dukungan Cepat (RSF).

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Lebih dari 36.000 orang dilaporkan mengungsi dari wilayah Kordofan, bagian timur Darfur, sejak akhir Oktober 2025, menurut laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Bagi banyak keluarga, ini bukan kali pertama mereka harus melarikan diri. Dalam dua tahun terakhir, perang saudara telah menghancurkan kehidupan warga sipil di berbagai penjuru Sudan.

Kini, Kordofan Tengah menjadi medan pertempuran baru yang memaksa ribuan orang mencari perlindungan di tempat-tempat pengungsian yang semakin padat.

“Pertempuran semakin mendekat. Kami meninggalkan rumah dengan membawa apa yang bisa diselamatkan,” ujar Suleiman Babiker, warga Um Smeima, wilayah barat El-Obeid, kepada relawan kemanusiaan.

Wilayah Kordofan memiliki posisi strategis karena menghubungkan Darfur dan ibu kota Khartoum. Setelah RSF merebut El-Fasher benteng terakhir tentara Sudan di Darfur ketegangan meningkat tajam. RSF kini membentuk pemerintahan saingan yang menantang pemerintahan promiliter yang berbasis di Port Sudan.

Organisasi Migrasi Internasional (IOM) mencatat lebih dari 36.800 orang meninggalkan lima lokasi di Kordofan Utara antara 26 dan 31 Oktober.

Sebagian besar melarikan diri dengan berjalan kaki menuju daerah yang dianggap lebih aman, meskipun kekurangan makanan, air, dan perlindungan medis tetap menjadi masalah besar.

Kedua kubu kini berebut kendali atas El-Obeid, ibu kota Kordofan Utara, yang memiliki nilai strategis tinggi karena menjadi pusat logistik dan transportasi penting antara barat dan timur Sudan.

Dalam video yang dirilis RSF di kanal Telegram resminya, salah satu anggota RSF memperingatkan warga sipil agar menjauhi area militer.

“Seluruh pasukan kami kini berada di garis depan Bara. Kami meminta warga untuk tidak mendekati zona operasi,” katanya.

Namun, imbauan itu tidak banyak menenangkan warga. Banyak yang takut perang akan kembali merembet ke wilayah mereka.

“Kami berhenti pergi ke ladang karena takut bentrokan,” ujar Suleiman, menggambarkan ketakutan yang dirasakan banyak warga Kordofan.

PBB dan organisasi kemanusiaan terus memperingatkan risiko meningkatnya bencana kemanusiaan di Sudan jika pertempuran tidak segera dihentikan.