MAKASSAR — Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, menegaskan pentingnya memperkuat narasi budaya sebagai cara mengenalkan identitas Makassar ke kancah nasional maupun dunia.
Pesan itu disampaikan Munafri saat menerima audiensi pengurus baru Dewan Kesenian Makassar (DKM) di Balai Kota, Rabu (1/10).
Menurutnya, hampir semua warisan budaya tak benda yang diakui UNESCO bermula dari narasi yang dirawat secara konsisten.
Ia mencontohkan kapal phinisi sebagai hasil dari narasi yang kuat. Hal serupa juga bisa diterapkan pada kuliner khas Makassar, seperti coto, yang akan lebih bernilai bila dikaitkan dengan kisah sejarah dan maknanya.
“Saya butuh narasi budaya yang digali satu per satu untuk membangun storytelling tentang Makassar. Itu yang perlu dieksplor,” ujar Munafri.
Ia mengaitkan hal ini dengan arahan Wamenpar RI saat berkunjung ke Makassar, yang menilai kekayaan kuliner khas kota ini tak hanya patut dijual sebagai makanan, tetapi juga sebagai budaya yang bercerita.
“Kita perlu teman-teman seniman. Bukan hanya karya, tetapi juga kisah yang membuat orang penasaran dan tertarik. Dari sanalah budaya Makassar bisa makin dikenal,” lanjutnya.
Munafri juga menyinggung pentingnya menghadirkan nuansa budaya di ruang publik, termasuk Balai Kota dengan menampilkan kecapi dan sinrilik. Ia menekankan regenerasi seni tradisional harus dijaga agar tidak terputus di kalangan generasi muda.
Selain itu, ia memaparkan rencana pembangunan gedung pertunjukan representatif untuk menjadi wadah kreativitas anak muda, serta menggagas festival muara yang mengangkat kekayaan laut dan sungai sebagai ikon baru Kota Makassar.
Sementara itu, pengurus baru DKM yang hadir memperkenalkan diri sekaligus melaporkan program kerja sebelumnya yang fokus pada edukasi seni. Mereka juga menyampaikan rencana pelantikan dan sinergi program bersama pemerintah kota.
“Harapan-harapan Pak Wali akan didistribusikan ke bidang-bidang. Kita mulai dari dua lorong percontohan setelah pengukuhan,” kata Ketua DKM, Juniar Arge.
Penulis: Ardhi







