Lintaskabar.id, Makassar — Menjelang Musda DPD I Partai Golkar Sulawesi Selatan, dinamika internal semakin mengeras. Sejumlah pihak memperlambat konsolidasi sehingga publik menangkap kesan ada penguluran waktu menuju agenda politik 2029.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Penundaan Musda Menggerus Posisi Tawar

Penundaan Musda membawa dampak politik, bukan sekadar urusan teknis organisasi. Penundaan itu menurunkan posisi tawar Golkar dan membuka risiko hilangnya kursi-kursi pimpinan pemilu di berbagai tingkatan di Sulawesi Selatan. Kondisi ini menguji soliditas dan kesiapan partai menghadapi kontestasi mendatang.

Dugaan Manuver Elite untuk Mengatur Ulang Peta Kekuatan

Di internal, sebagian elite DPD I Golkar Sulsel diduga mengulur Musda untuk menunggu masa jabatan pengurus DPD II kabupaten/kota berakhir. Dengan cara itu, mereka dapat mengatur ulang peta kekuasaan internal sesuai kepentingan tertentu.

Mulawarman Kritik Kepengurusan Baru Bentukan DPP

Pemerhati sekaligus penggiat media sosial, Mulawarman, menilai ketidakpastian Musda menunjukkan persoalan serius. Ia menyoroti langkah DPP Golkar yang membentuk kepengurusan baru DPD I Golkar Sulsel berjumlah 162 orang. Menurutnya, DPP membangun struktur yang terlalu gemuk sehingga kader mempertanyakan efektivitasnya dalam mempercepat konsolidasi dan Musda.

“Ini menunjukkan bahwa DPP Golkar sedang menghadapi persoalan serius di Sulsel. Kalau situasi internal baik-baik saja, tidak perlu membentuk kepengurusan massal sebesar itu,” ujar Mulawarman dalam keterangannya, Minggu (25/1/2026).

DPD II Disebut Siap, Hambatan Dinilai Ada di Pusat dan DPD I

Mulawarman menegaskan DPD II se-Sulsel sudah siap menggelar Musda. Ia menyebut sejumlah kader potensial telah menyatakan kesiapan maju sebagai calon Ketua DPD I Golkar Sulsel secara terbuka dan demokratis. Karena itu, ia menilai hambatan utama datang dari DPP dan DPD I Golkar Sulsel.

“Masalahnya bukan di DPD II, bukan juga di kesiapan kader. Masalah utamanya ada di DPP dan DPD I Golkar Sulsel sendiri, mengukir waktu,” beber Mulawarman.

Pencarian Figur Ketua Baru dan Peran JK

Menurut Mulawarman, DPP dan pengurus Golkar Sulsel belum menemukan figur calon Ketua DPD I Golkar Sulsel yang dapat diterima Jusuf Kalla (mantan Ketua Umum Partai Golkar sekaligus Ketua Dewan Pertimbangan Golkar) sebagai pengganti Munafri Arifuddin (Appi). Ia menilai pencarian figur yang “disukai” atau setidaknya dapat diterima memakan waktu dan mendorong DPP membentuk kepengurusan sementara.

“DPP memberi waktu paling lama enam bulan, setengah tahun, kepada pengurus bentukan ini untuk mencari figur pengganti Appi. Ini pengakuan tidak langsung bahwa DPP belum siap mengambil keputusan,” jelas Mulawarman.

DPP Ambil “Jalan Aman”

Mulawarman menilai Ketua Umum DPP Golkar, Bahlil Lahadalia, berada dalam posisi dilematis. Ia menilai DPP memilih langkah aman dengan meminta Golkar Sulsel mengajukan calon yang dapat diterima JK.

“Karena itu, DPP memilih jalan aman dengan meminta Golkar Sulsel mencari calon yang bisa diterima JK,” kata Mulawarman.

Komposisi Pengurus Dinilai Mudah Terbaca

Ia juga menilai publik mudah membaca komposisi pengurus DPD I bentukan DPP. Menurutnya, DPP hanya mengakomodasi sedikit figur yang dekat dengan Appi dan lebih banyak mengisi struktur dari luar lingkaran sebelumnya.

“Ini sinyal kuat bahwa DPP memang

belum berani menentukan sikap secara tegas,” ujarnya.

Prediksi Penunjukan Plt Bisa Picu Konflik

Mulawarman memprediksi pengurus bentukan DPP akan menunjuk Pelaksana Tugas (Plt) untuk sejumlah Ketua DPD II yang dikenal mendukung Appi. Ia menilai langkah itu dapat memicu konflik besar di internal.

“Kalau langkah PLT terhadap Ketua DPD pendukung Appi benar-benar dilakukan, itu akan menjadi bom waktu. Golkar Sulsel bisa mengalami sangsangkala atau kekacauan internal yang serius,” tegasnya.

Target Soliditas Terancam Gagal di 2029

Ia menilai tekanan internal justru mengancam tujuan DPP menyolidkan Golkar Sulsel dan dapat menggagalkan target menghadapi Pemilu 2029.

“Dengan kondisi seperti ini, mimpi DPP Golkar untuk menyolidkan Golkar Sulsel justru terancam gagal di Pemilu 2029 mendatang,” tuturnya.

Pernyataan Keras dan Jadwal Musda yang Masih Kabur

Mulawarman menulis dengan huruf kapital, “Golkar Sulsel Tifak Akan Pernah Solid. DPP Hanya Memnyimpan Bom Waktu untuk DPD I Golkar Sulsel,” demikian kutipan Mulawarman.

Publik dan kader Golkar Sulsel juga mempertanyakan kepastian jadwal Musda karena jadwal yang sempat tertunda dari Agustus hingga Oktober 2025 kembali molor sampai pertengahan 2026, sehingga pelaksanaannya masih belum jelas. (Ar)