MAKASSAR — Dua nama kuat, Munafri Arifuddin dan Ilham Arief Sirajuddin, disebut-sebut memiliki peluang besar memimpin Golkar Sulawesi Selatan (Sulsel) dalam Musyawarah Daerah (Musda) yang dijadwalkan digelar tahun ini.
Pengamat politik dari Universitas Hasanuddin, Hasrullah, menilai kekuatan Munafri tak hanya bertumpu pada aspek kepemimpinan, tetapi juga pada jaringan pengikut yang solid dan terstruktur.
“Dalam teori struggle of power, mereka yang menguasai sumber daya politik bukan hanya uang, tapi juga kepemimpinan, jabatan, dan dukungan massa memiliki peluang besar untuk menang,” ujar Hasrullah.
Ia menambahkan, infrastruktur politik Golkar Sulsel saat ini masih cenderung dikuasai oleh Munafri. “Jaringan loyalisnya sudah menyebar hingga ke tingkat kecamatan. Kalau dulu masih ada keraguan, sekarang banyak yang mulai menyatakan dukungan secara terbuka,” ungkapnya.
Ilham Arief Sirajuddin, mantan Wali Kota Makassar dua periode (2004–2009), juga disebut masih memiliki kekuatan jaringan yang signifikan. Namun, menurut Hasrullah, dukungan terhadap figur seperti Taufan Pawe dan tokoh lainnya masih terkesan parsial dan belum menunjukkan kekompakan serupa.
Lebih lanjut, Hasrullah menyebut Wali Kota Makassar saat ini—yakni Munafri—memiliki kharisma politik yang menjadi daya tarik tersendiri dalam dinamika perebutan kepemimpinan di tubuh Golkar Sulsel.
“Pemimpin yang masih menjabat cenderung punya magnet tersendiri. Banyak yang ingin terlihat bersama, karena itu memperkuat posisi simbolik mereka. Sebaliknya, figur yang sudah tidak menjabat sering kali kehilangan daya pikat politik,” jelasnya.
Menurutnya, jabatan publik seperti wali kota menjadi modal strategis bagi Munafri, karena membuka akses komunikasi langsung dengan masyarakat serta memperkuat posisi di internal partai.
“Sentimen positif terhadap Munafri saat ini sangat tinggi. Ia bukan hanya Wali Kota Makassar, tapi juga dikenal memiliki citra baik di tengah masyarakat,” tambah Hasrullah.
Hasrullah juga menekankan bahwa hampir 52% pemilih berasal dari generasi milenial. Dalam konteks ini, ia menilai sosok seperti Munafri yang bisa memadukan kekuatan struktur, kharisma, dan kepemimpinan adaptif sangat berpotensi unggul.
“Kalau kita lihat, Munafri sangat merepresentasikan generasi milenial,” tegasnya.
Namun demikian, Hasrullah mengingatkan bahwa peta kekuatan belum sepenuhnya final. Kehadiran Adnan Purichta Ichsan mantan Bupati Gowa juga dinilai berpotensi mengejutkan.
“Jangan lupakan Adnan Purichta Ichsan. Dengan jejaring kuat yang ia miliki, bukan tidak mungkin ia menjadi kuda hitam dalam Musda nanti,” tutupnya.
Penulis: Zulkifli







