Lintaskabar.id, Opini – Saya terinspirasi dari ceramah seorang ustaz pada suatu subuh tentang detoksifikasi hati. Istilah “detoks” menarik perhatian saya karena belakangan populer dalam pembahasan gaya hidup sehat.
Detoks Tubuh dan Makna Intervensi Gaya Hidup
Secara umum, tubuh melakukan detoksifikasi secara alamiah: organ-organ membersihkan racun dari proses metabolisme. Ketika proses ini berjalan lancar, tubuh tetap bugar. Ketika terganggu, kesehatan pun menurun. Begitukah, wahai sahabat-sahabat dokter?
Selain itu, orang juga mempraktikkan detoks sebagai intervensi gaya hidup. Sebagian menjalani puasa ketat berdurasi panjang untuk membantu penguraian lemak berlebih dan racun tubuh. Ada istilahnya, tetapi silakan cari sendiri.
Saya pernah mencoba mengikuti pola detoks seorang teman. Namun, saya segera menyadari detoks menuntut kedisiplinan tinggi, terutama saat harus menyiasati undangan makan—apalagi jika suguhannya menggoda.
Detoks Psiko-Religius: Membersihkan Racun Hati
Kemudian, sang ustaz membawa istilah detoks ke ranah psiko-religius: pembersihan hati dari racun yang memicu penyakit batin. Ia menyoroti detoks dari racun kesombongan. Saya tertarik karena kesombongan bisa melanda siapa saja; ia racun kemanusiaan.
Kesombongan Melahirkan Racun Lain
Kesombongan memicu berbagai racun hati. Orang sombong cenderung egois karena ingin menang sendiri. Ia sulit mendengar karena hanya ingin didengar. Ia juga mudah narsis sebagai saluran kesombongannya. Intinya, kesombongan menghalangi persaudaraan sejati.
Deteksi Diri sebagai Pintu Masuk Detoks Hati
Menurut ustaz itu, seseorang perlu mendetoks hati melalui “pengobatan” rutin sesuai tingkat kesombongannya. Langkah pertama adalah mendeteksi diri: mengenali perilaku sombong yang sering muncul.
Ia menegaskan deteksi diri menjadi langkah paling mendasar sekaligus penentu keberhasilan, karena memuat unsur pengakuan atas racun yang melekat di hati. Berbeda dengan detoks fisik yang mudah ditandai secara lahiriah, detoks hati berlangsung batiniah.
Masuk ke “Klinik” Kontemplasi
Orang sombong sering tidak sadar bahwa dirinya sombong—itulah tantangannya. Karena itu, kesediaan mendeteksi diri membantu menggugah kesadaran. Setelah itu, seseorang masuk ke “klinik”, ruang kontemplasi—lebih baik hening, dengan cahaya temaram—lalu berefleksi.
Termasuk penulis. Karena saya khawatir mempraktikkan kesombongan saat menulis tema ini, saya hentikan saja dulu dan bersiap menuju “klinik” detoksifikasi hati.
Oleh: Hamdan Juhannis (Rektor UIN Alauddin)







