Lintaskabar.id, Makassar — Staf Khusus Menteri Agama RI Bidang Komunikasi dan Kebijakan Publik, Dr. Drs. Ismail Cawidu, M.Si., menyebut UIN Alauddin Makassar sebagai “Raksasa Intelektual dari Timur Indonesia”. Ia menegaskan julukan itu tidak berasal dari klaim internal kampus, melainkan dari pembacaan data digital yang dirangkum kecerdasan buatan.
Raker 2026 bahas strategi komunikasi publik
Ismail menyampaikan pernyataan tersebut saat ia menjadi narasumber Rapat Kerja UIN Alauddin Makassar di Hotel Sultan Alauddin, Rabu Januari 2026. Dalam forum itu, ia membawakan materi bertajuk Penguatan Strategi Komunikasi Publik UIN Alauddin Makassar.
Ismail ajukan pertanyaan ke ChatGPT
Ismail menjelaskan julukan “raksasa dari Timur” muncul ketika ia bertanya kepada ChatGPT tentang posisi UIN Alauddin Makassar secara nasional. “Saya bertanya secara jujur kepada ChatGPT, bagaimana melihat UIN Alauddin Makassar. Jawabannya menyebut kampus ini sebagai raksasa intelektual dari Timur Indonesia,” ujar Ismail.
AI nilai kinerja kampus dari data terbuka
Menurut Ismail, kecerdasan buatan merangkum penilaian dari data terbuka, bukan opini personal. Ia menyebut konsistensi peringkat institusi, integrasi sains dan keislaman, serta predikat Badan Publik Informatif ikut menguatkan citra kampus.
“AI tidak bisa disogok. Dia membaca apa yang tersedia di ruang public seperti kinerja akademik, riset, tata kelola, dan rekam jejak digital institusi,” kata Ismail.
UIN Alauddin kuat di Indonesia Timur dan jadi rujukan PTKIN
Ismail menilai UIN Alauddin Makassar memegang dominasi regional di kawasan Indonesia Timur, mulai Sulawesi, Maluku, hingga Papua. Ia juga menyebut kampus ini kerap menjadi rujukan PTKIN lain, baik dalam pengembangan akademik maupun tata kelola kelembagaan.
Riset dan publikasi dorong posisi nasional
Selain itu, Ismail menekankan produktivitas riset dosen sebagai faktor penting. Menurutnya, publikasi nasional dan internasional, termasuk sitasi ilmiah, menempatkan UIN Alauddin dalam jajaran atas PTKIN di tingkat nasional.
Kampus kelola sains dan kedokteran, tetap kuat di studi Islam
Dari sisi keilmuan, Ismail menilai UIN Alauddin memiliki cakupan program studi yang luas dan inklusif. Ia menyoroti pengelolaan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan di lingkungan PTKIN, sambil tetap menjaga kekuatan studi Islam klasik.
“Tidak banyak PTKIN yang mampu mengelola ilmu keislaman, sains, dan kedokteran secara simultan. Ini menunjukkan kekuatan intelektual yang nyata,” ujar Ismail.
UIN Alauddin perkuat moderasi beragama
Ismail juga menilai Makassar memiliki posisi strategis secara sosial dan geopolitik. Karena itu, ia memandang UIN Alauddin berperan sebagai benteng moderasi beragama di kawasan timur Indonesia serta berkontribusi pada pengembangan pemikiran Islam moderat.
Ismail dorong komunikasi publik yang adaptif
Ismail menekankan predikat Badan Publik Informatif menjadi indikator tata kelola yang sehat. Namun, ia mengingatkan status “raksasa” harus berjalan seiring dengan komunikasi publik yang jujur dan adaptif, terutama di era digital yang dipengaruhi perkembangan AI.
“Sekarang bukan hanya manusia yang menilai institusi, tetapi juga mesin. Karena itu, kecerdasan digital menjadi kebutuhan agar publik bisa membedakan mana informasi autentik dan mana yang tidak,” kata Ismail.
Raker jadi momentum penyelarasan strategi
Pada akhirnya, rapat kerja ini mendorong UIN Alauddin Makassar menyelaraskan capaian akademik, tata kelola, dan strategi komunikasi publik sejalan dengan perannya sebagai pusat keunggulan pendidikan Islam di Indonesia Timur. (Zi)






