Lintaskabar.id, Jawa – Pendidikan merupakan proses berkesinambungan yang membentuk manusia menjadi hamba sekaligus khalifah Allah di muka bumi.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia sekaligus Sekretaris Umum PP Muhammadiyah, Abdul Mu’ti, menyampaikan hal itu dalam Kajian Ramadan Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur, Sabtu malam (21/2).

Ilmu Menjadi Kunci Menjalankan Amanah Kekhalifahan

Dalam kajian bertema “Tugas Kekhalifahan dalam Perspektif Pendidikan”, Abdul Mu’ti menegaskan amanah sebagai khalifah tidak sederhana. Karena itu, ia menempatkan ilmu sebagai fondasi utama untuk menjalankan tugas tersebut.

“Kalau ingin menjadi seorang khalifah, kuncinya adalah ilmu. Orang saleh saja, taat beribadah saja, tetapi ilmunya rendah, tidak bisa menjadi khalifah,” ujarnya.

Akal Menggerakkan Manusia Mengembangkan Ilmu

Abdul Mu’ti menjelaskan manusia meraih ilmu melalui keberfungsian akal. Dengan akal, manusia dapat mengamati, menalar, lalu mengembangkan fenomena alam menjadi berbagai disiplin ilmu yang bermanfaat bagi kehidupan.

“Dengan kreativitas akalnya, manusia bisa menciptakan banyak hal dalam rangka menciptakan kesejahteraan kehidupan di dunia,” ungkapnya.

Kreativitas Harus Berlandaskan Ibadah dan Batas Ketentuan Allah

Meski demikian, Abdul Mu’ti mengingatkan pengembangan ilmu dan kreativitas harus dilandasi niat ibadah serta tidak melampaui ketentuan dan hukum Allah Swt.

“Semuanya dilaksanakan sebagai bagian dari ibadah kepada Allah dan tidak melampaui batas-batas yang telah ditetapkan,” tegasnya.

Abdul Mu’ti Tekankan Keseimbangan Ilmu dan Kesalehan

Abdul Mu’ti menilai kesalehan tanpa ilmu tidak memadai, sebagaimana ilmu tanpa kesalehan juga tidak utuh. Ia menegaskan keduanya saling melengkapi dan tidak dapat dipisahkan. Ia juga menyinggung khazanah Islam yang menempatkan ilmu pada posisi tinggi melalui berbagai hadis.

Dua Fungsi Pendidikan: Konservatif dan Progresif

Lebih lanjut, Abdul Mu’ti memaparkan dua fungsi utama pendidikan, yakni konservatif dan progresif. Dalam fungsi konservatif, pendidikan melestarikan nilai-nilai akhlakul karimah sebagai warisan fundamental kepada generasi penerus. Ia mencontohkan nasihat Luqman kepada anaknya dalam QS Al-Luqman ayat 13 yang mengajarkan tauhid dan menjauhi syirik sebagai fondasi akhlak.

“Ada akhlak mulia yang harus diwariskan. Nilai-nilai itu menjadi panduan agar manusia memiliki kepribadian utama,” jelasnya.

Pendidikan Membekali Generasi Menciptakan Masa Depan

Sementara itu, fungsi progresif menuntut pendidikan membekali generasi agar tidak hanya bertahan hidup, tetapi juga mampu menciptakan masa depan yang lebih baik dan berkemajuan. (Zi)