PANGKEP — Politeknik Pariwisata Makassar (Poltekpar Makassar) melalui Pusat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (P3M) menggelar pelatihan pengolahan pangan lokal pada Sabtu kemarin.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Bertempat di Pulau Sabutung, Kabupaten Pangkep, kegiatan ini mengangkat tema “Inovasi Pengelolaan Pangan Lokal sebagai Pengungkit Ekonomi Komunitas Pesisir”, dan menjadi bagian dari program pengabdian masyarakat tahun 2025 di kawasan inti UNESCO Global Geopark Maros Pangkep.

Program ini diawali survei lapangan pada 4 Mei yang mengungkap potensi besar hasil laut seperti ikan tenggiri dan daun kelor, yang belum dimanfaatkan secara optimal.

Menyikapi hal tersebut, Poltekpar merancang pelatihan pengolahan pangan inovatif dan ramah lingkungan, fokus pada produk Bakso Ikan Tenggiri Daun Kelor.

Sebanyak 30 perempuan dari Pulau Sabutung, Sapuli, dan Saugi mengikuti pelatihan yang digelar di Aula Kecamatan Liukang Tupabbiring Utara.

Meski diguyur hujan dan mengalami pemadaman listrik, para peserta tetap antusias, bahkan menempuh perjalanan sejak pagi dengan perahu.

Kepala P3M Poltekpar Makassar, Prof. Ilham, S.Pd., M.Hum., Ph.D., menekankan pentingnya pendampingan yang berkelanjutan.

“Pemberdayaan bukan hanya memberi ilmu, tapi juga membangun kolaborasi yang dimulai dari mendengar dan bergerak bersama,” ujarnya.

Pelatihan menghadirkan dua pemateri: Muhammad Rusdi, S.Sos., M.Hum., yang membahas pentingnya narasi kuliner dalam pariwisata budaya, serta Nur Salam, S.Sos., M.Pd., yang membimbing praktik pembuatan bakso ikan dengan teknik ilmiah yang mudah dipahami.

Peserta juga belajar tentang komposisi bahan, eksplorasi rasa, dan pewarna alami dari sayuran lokal.

Salah satu peserta, St. Aminah Muing dari Pulau Saugi, menanyakan cara membuat tampilan bakso lebih menarik secara alami.

Narasumber menjelaskan bahwa penggunaan sayuran seperti bayam atau wortel dapat menjadi solusi inovatif.

Kepala Desa Mattiro Kanja, Musakkir, dan Camat Liukang Tupabbiring Utara, Husni Tamrin, menyampaikan apresiasi atas kontribusi nyata Poltekpar.

“Bukan sekadar wacana, mereka hadir dan langsung bekerja di lapangan,” ujar Camat Husni.

Lebih dari sekadar pelatihan kuliner, program ini mendorong semangat kewirausahaan, memperkuat jejaring komunitas, dan meningkatkan kepercayaan diri masyarakat pesisir.

Inisiatif ini menjadi bukti nyata peran pendidikan vokasi dalam mendorong pariwisata yang inklusif dan berkelanjutan.

Penulis: Anugrah