Lintaskabar.id, Makassar – Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan bersama Bank Indonesia terus memperkuat sinergi dalam membangun ekosistem ekonomi dan keuangan syariah yang inklusif dan berkelanjutan.
Hal ini ditandai dengan kegiatan Closing Ceremony Bulan Ekonomi dan Keuangan Syariah (BEKS) Provinsi Sulawesi Selatan tahun 2025 yang digelar di Baruga Phinisi Kantor Perwakilan Bank Indonesia Sulsel, Jalan Jenderal Sudirman, Makassar, Jumat (7/11/2025).
Acara yang mengangkat tema “Memperkuat Ekosistem Ekonomi dan Keuangan Syariah Sulawesi Selatan yang Kolaboratif, Inovatif, dan Inklusif” ini diselenggarakan oleh Bank Indonesia Sulsel sebagai bentuk dukungan terhadap pengembangan ekonomi dan keuangan syariah di daerah.
Selama sebulan penuh pada Oktober 2025, BEKS menghadirkan beragam kegiatan melibatkan berbagai instansi dan pemangku kepentingan di Sulawesi Selatan.
Sekretaris Daerah Provinsi Sulsel, Jufri Rahman menyampaikan bahwa BEKS menjadi momentum strategis bagi Pemprov Sulsel bersama Bank Indonesia dan seluruh stakeholder untuk memperkuat ekosistem ekonomi dan keuangan syariah yang produktif dan berkelanjutan.
“Pembangunan ekonomi dan keuangan syariah tidak bisa dilakukan oleh satu sektor saja, tetapi memerlukan kolaborasi lintas sektor. Kehadiran kita di sini menunjukkan komitmen bersama untuk mendorong ekonomi dan keuangan syariah terus tumbuh di Sulsel. Kami apresiasi langkah nyata yang telah dilakukan oleh Bank Indonesia,” ujar Jufri.
Ia menambahkan, potensi ekonomi dan keuangan syariah sangat besar, tidak hanya di Indonesia atau negara-negara mayoritas muslim, namun juga di negara dengan penduduk non muslim.
Karena itu, Pemprov Sulsel berkomitmen untuk mengintegrasikan pengembangan sektor ini dengan kebijakan pembangunan daerah yang berpihak pada peningkatan kesejahteraan masyarakat dan kemandirian ekonomi umat.
Lebih lanjut, Sekda Sulsel mengusulkan agar pondok pesantren juga dapat memperoleh akses pembiayaan syariah. “Kementerian Keuangan sudah memiliki skema Kredit Usaha Rakyat (KUR) untuk membantu masyarakat yang membutuhkan modal usaha. Kami berharap pesantren juga bisa mendapat akses pembiayaan serupa, misalnya dengan skema tanpa bunga dan nilai terbatas,” jelasnya.
Menurutnya, langkah ini akan sangat membantu koperasi pesantren mengembangkan usaha produktif. “Banyak potensi usaha yang bisa dilakukan, contohnya beternak ayam petelur untuk memenuhi kebutuhan 3.000 butir telur per hari bagi SPPG,” tambahnya.
Sementara itu, Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Sulsel, Wahyu Purnama A, menjelaskan bahwa BEKS 2025 telah terlaksana selama Oktober dengan total 18 kegiatan yang diikuti sekitar 5.000 peserta.
Kegiatan tersebut mencakup peningkatan literasi ekonomi dan keuangan syariah, penguatan kemandirian ekonomi pesantren, pengembangan ekosistem halal value chain, serta penguatan keuangan sosial syariah.
Dalam acara penutupan, turut dilakukan sejumlah agenda penting seperti penandatanganan kerja sama pasokan antara Koperasi Kolaborasi Bisnis Pesantren dengan SPPG dan mitra usaha lainnya, penyerahan sertifikat juru sembelih halal (juleha), sertifikat Nazhir Wakaf, serta sertifikat halal bagi penyelia dan rumah potong unggas. Selain itu, juga diserahkan sertifikat Zona KHAS untuk SMA 17 Makassar dan Kantin Koperasi Kantor Gubernur Sulsel. (Ir)







