Lintaskabar.id, Makassar – Pedagang kaki lima (PKL) di Jalan Mappayukki, Kecamatan Mariso, membongkar lapaknya secara mandiri setelah puluhan tahun menempati fasilitas umum. Langkah ini mendukung penataan kawasan tanpa konflik.
Sebanyak tujuh lapak di Jalan Mappayukki dibongkar. Selain itu, pedagang di Jalan Garuda dan Jalan Rajawali membongkar total 16 lapak di atas drainase dan badan jalan.
Camat Mariso, Andi Syahrir, menegaskan kesadaran pedagang menjadi kunci penertiban.
“Jadi, pedagang yang bongkar mandiri lapaknya, di Jalan Mappanyuki ada 7 lapak, Jalan Garuda ada delapan lapak. Dan pembongkaran mandiri juga di jalan Rajawali ada delapan lapak,” jelasnya, Rabu (8/4/2026).
Pendekatan Humanis
Syahrir menyebut pihak kecamatan menggunakan pendekatan persuasif dan humanis. Metode ini membuat pedagang menerima penataan kawasan.
“Metode ini efektif, sehingga para PKL dapat menerima penataan kawasan dengan baik,” ungkapnya.
Pemerintah sebelumnya telah melayangkan surat peringatan dan melakukan komunikasi langsung.
“Kami sudah melayangkan SP3, kemudian melakukan pendekatan persuasif dan humanis kepada pedagang yang berjualan di atas trotoar dan drainase,” ujarnya.
Fungsi Fasilitas Dikembalikan
Pemerintah menata kawasan untuk mengembalikan fungsi trotoar dan bahu jalan serta meningkatkan kenyamanan dan kelancaran lalu lintas.
“Selain itu, upaya ini juga untuk menciptakan kenyamanan, meningkatkan keamanan, serta memperlancar arus lalu lintas di kawasan tersebut,” terangnya.
Penataan Berlanjut
Pemerintah akan melanjutkan penertiban di wilayah lain seperti Kunjung Mai, Mariso, Panambungan, dan Lette dengan pendekatan yang sama.
“Penertiban ini menjadi bagian dari komitmen pemerintah dalam menata kawasan perkotaan agar lebih tertib, nyaman,” tuturnya.
“Dan ramah bagi seluruh pengguna jalan, tanpa mengabaikan aspek sosial dan keberlangsungan usaha masyarakat kecil,” sambung Syahrir. (Ar)







