MAKASSAR — Di Kota Makassar, suara doa bergema penuh kekhidmatan. Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, bersama Wakil Wali Kota Aliyah Mustika Ilham, dan Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) duduk bersama dalam doa untuk bangsa Indonesia.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Doa bersama yang berlangsung dalam hening dan penuh harapan ini menjadi simbol kecintaan terhadap tanah air, lebih dari sekadar ritual spiritual. Kegiatan ini mengandung makna kebersamaan, persatuan, serta semangat kebangsaan.

Di tengah situasi penuh ujian, doa menjadi penguat batin dan jembatan yang menyatukan harapan agar Makassar tetap berada dalam lindungan Tuhan dan selalu damai.

Pemerintah Kota Makassar menggelar doa bersama di Lapangan Karebosi pada Selasa malam (2/9), menghadirkan berbagai tokoh agama, pemuda lintas organisasi, dan komunitas masyarakat.

Di tengah suasana duka dan keprihatinan, enam agama hadir memanjatkan doa bersama untuk Makassar. Islam, Kristen, Katolik, Buddha, Hindu, dan Konghucu bergiliran menyampaikan harapan. Ini bukan sekadar doa, melainkan bukti persaudaraan yang melampaui perbedaan, serta permohonan akan kedamaian, keselamatan, dan keamanan bagi kota ini.

Doa bersama ini mengikat tekad untuk menjaga kedamaian dan persatuan. Lantunan doa menjadi tempat pertemuan batin, di mana setiap harapan disatukan dengan semangat kebangsaan.

Wali Kota Munafri Arifuddin menegaskan bahwa doa bersama yang digelar oleh Pemerintah Kota Makassar adalah langkah penting di tengah situasi yang penuh cobaan. Menurutnya, cara terbaik untuk menghadapinya adalah dengan memohon pertolongan kepada Allah SWT.

“Tidak ada lagi yang bisa kita lakukan selain memohon kepada Allah Yang Maha Kuasa agar keadaan yang tidak kondusif ini segera berlalu,” tegas Munafri.

Sinergi antara pembinaan keagamaan dan nilai kemanusiaan menjadi kekuatan untuk menyikapi situasi bangsa dengan hati yang tenang, pikiran jernih, dan tekad bersama untuk menjaga Makassar tetap aman serta Indonesia selalu damai.

Munafri juga menekankan bahwa Makassar bukan sekadar kota, melainkan ruang hidup bersama yang penuh berkah. Karena itu, tidak ada alasan untuk merusak kedamaian Makassar.

“Kita wajib menjaga kota yang kita cintai ini. Malam ini kita berdoa agar Makassar tetap aman dan damai,” tambahnya.

Ia juga menyampaikan rasa duka mendalam atas insiden 29 Agustus yang menyebabkan korban jiwa, menyebutnya sebagai tindakan yang dilakukan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.

Doa bersama ini menggambarkan kebersamaan berbagai kalangan untuk menjaga persatuan. Munafri menegaskan, “Kami tidak ingin kota ini mencekam, kami ingin Makassar tetap aman, damai, dan penuh toleransi.”

Wakil Wali Kota Aliyah Mustika Ilham juga mengingatkan pentingnya perdamaian dalam menyuarakan aspirasi.

“Saya berharap tidak ada lagi air mata yang jatuh karena amarah. Makassar adalah milik kita semua, mari kita jaga dengan hati yang tenang dan cara yang damai,” kata Aliyah di hadapan tokoh masyarakat dan warga.

Aliyah juga menegaskan bahwa perbedaan pendapat tidak boleh memutus persaudaraan, dan seharusnya dapat disampaikan dengan bijak tanpa merusak kedamaian kota.

“Mariki semua jaga Makassar’ta,” tutupnya dengan ajakan penuh semangat.

Doa bersama ini dihadiri oleh mubalig terkenal Ustadz Das’ad Latief sebagai penceramah, dimulai dengan sholat Maghrib dan Isya berjamaah.

Di antara yang hadir adalah Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin, Wakil Wali Kota Aliyah Mustika Ilham, Ketua TP PKK Makassar Melinda Aksa Mahmud, Sekda Makassar Zulkifly Nanda, serta Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB).

Turut hadir Ketua DPRD Makassar Supratman, Wakil Ketua DPRD Makassar Andi Suharmika, Kapolrestabes Makassar Kombes Pol Arya Perdana, Dandim 1408/Makassar Letkol Inf Franki Susanto, Kepala Kejaksaan Negeri Makassar Nauli Rahim Siregar, mantan Wali Kota Makassar Ilham Arief Sirajuddin, serta jajaran SKPD Pemkot Makassar, elemen OKP KNPI, tokoh agama, dan komunitas Ojol.

Penulis: Ardhi