JAKARTA — Hingga memasuki kuartal akhir 2025, kepastian subsidi motor listrik masih belum jelas. Ketua Asosiasi Industri Sepeda Motor Listrik Indonesia (Aismoli), Budi Setyadi mengungkapkan tahun lalu kebijakan ini dikawal langsung oleh Luhut Binsar Pandjaitan, yang kini menjabat Kepala Dewan Ekonomi Nasional (DEN).

Scroll Untuk Lanjut Membaca

“Nah saya tidak tahu sejauh mana DEN terlibat dalam pembahasan subsidi tahun ini. Tapi pada 2023–2024, Pak Luhut yang mengawal,” kata Budi, Minggu (24/8).

Budi berharap pemerintah, termasuk Luhut, kembali mendorong kejelasan soal subsidi ini.

“Kalau DEN bukan pengambil keputusan, setidaknya bisa memberi rekomendasi agar subsidi berlanjut seperti tahun lalu,” ujarnya.

Selain Luhut, pelaku industri juga menunggu sikap Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita. Menurut Budi, Kemenperin hanya tinggal satu langkah lagi sebelum keputusan final ditentukan melalui rapat dengan Menko Perekonomian Airlangga Hartarto.

Ketidakjelasan subsidi membuat penjualan motor listrik merosot tajam. Tahun lalu, pembeli mendapat insentif Rp7 juta per unit, sementara tahun ini tidak ada kabar sama sekali. Dampaknya, penjualan anjlok hingga 70%.

“Penurunannya bervariasi, ada yang 30%, 40%, bahkan sampai 70%. Tergantung strategi tiap produsen,” jelas Budi.

Beberapa pabrikan tetap mencatat penjualan lumayan, tapi harus mengeluarkan biaya besar untuk promosi, diskon, dan tenaga kerja. Budi mencontohkan Honda dan Alva yang masih cukup agresif dengan potongan harga.

Ia memperkirakan total penjualan 2025 hanya akan menyentuh 25–30 ribu unit, jauh di bawah capaian tahun lalu yang mencapai 70 ribu unit. Hingga pertengahan tahun ini, angka penjualan baru sekitar 11 ribu unit.

Lesunya pasar membuat sejumlah pabrikan merumahkan karyawan. Meski belum sampai pada pemutusan hubungan kerja (PHK) massal, kondisi ini sudah berlangsung sejak tiga bulan terakhir.

“Dirumahkan bukan berarti PHK. Kalau nanti ada insentif atau kebijakan baru, industri bisa langsung meningkatkan kapasitas lagi,” kata Budi.

Ia menekankan pentingnya kepastian jangka panjang. Jika pemerintah menegaskan subsidi berlanjut selama 3–5 tahun, industri akan lebih bersemangat meningkatkan produksi sekaligus menyerap lebih banyak tenaga kerja.

Saat ini, tercatat ada 35 pabrik motor listrik di Indonesia, sebagian besar masih padat karya. Satu lini produksi bisa melibatkan ratusan orang. Menurut Budi, kepastian kebijakan akan mendorong pabrikan terus berkembang, bahkan berinvestasi ke teknologi mesin modern di masa depan.

Penulis: Amriadi