MAKASSAR — Keberadaan Plant Badriah di Desa Padanglampe, Kabupaten Pangkep, menegaskan komitmen kuat pemerintah dalam menghadapi persoalan sampah di Sulawesi Selatan.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Pabrik pengolahan sampah menjadi bahan bakar alternatif ini bukan hanya jadi bukti keberhasilan mantan Gubernur Andi Sudirman Sulaiman, tetapi juga diteruskan dengan baik oleh Pj Gubernur Sulsel, Prof Zudan Arief Fakrulloh.

Pabrik yang mengandalkan teknologi Refuse Derived Fuel (RDF) tersebut telah beroperasi sejak September 2023, mengolah sampah menjadi bahan bakar pengganti batu bara untuk pabrik-pabrik semen di Pangkep.

Dengan kapasitas olahan hingga 90 ton sampah per hari, Plant Badriah menghasilkan sekitar 30 ton bahan bakar alternatif yang langsung digunakan oleh PT Semen Tonasa, memperkuat ketergantungan energi pada bahan yang lebih ramah lingkungan.

Saharuddin Ridwan, Dewan Pengawas Asosiasi Bank Sampah Indonesia, menilai proyek ini sebagai langkah strategis yang berhasil menyelesaikan dua masalah sekaligus: penumpukan sampah dan kebutuhan energi.

“Dengan RDF, sampah yang tadinya hanya jadi masalah, kini diubah menjadi solusi energi baru,” ujarnya.

Pengelolaan sampah yang efektif di Pangkep bahkan diproyeksikan untuk mencakup wilayah tetangga seperti Maros, Barru, Parepare, hingga Makassar.

Prof Zudan mengimbau agar sampah-sampah dari daerah tersebut dikirim ke Plant Badriah untuk diolah dengan baik.

“RDF ini sangat potensial untuk dimanfaatkan oleh kota-kota tetangga. Plant Badriah punya kapasitas besar dan dapat menjadi solusi regional,” ujar Pj Gubernur Zudan.

Kehadiran RDF di Pangkep membuka peluang baru dalam pengelolaan sampah di Sulsel, termasuk di Makassar yang menghadapi volume sampah harian hingga seribu ton.

Meskipun Makassar telah merencanakan proyek pengolahan sampah menjadi listrik (PSEL), realisasi proyek tersebut masih berjalan lambat.

Dengan total investasi Rp23 miliar, Plant Badriah kini menjadi model pengelolaan sampah yang berkelanjutan, tidak hanya mengurangi tumpukan sampah, tetapi juga menghasilkan energi bersih dan menambah pendapatan asli daerah Pangkep.

Proyek ini tak hanya menjadi bukti kesuksesan Andi Sudirman Sulaiman, tetapi juga fondasi kuat yang diteruskan oleh Prof Zudan untuk masa depan Sulsel yang lebih bersih dan hijau.