Lintaskabar.id, Makassar — Gelaran Piala Dunia 2026 diperkirakan memberi dampak ekonomi bagi Indonesia meski tidak sebesar negara yang menjadi tuan rumah. Sejumlah sektor usaha berpeluang meraih keuntungan, sementara sektor lainnya berpotensi mengalami penurunan daya beli akibat pergeseran pola konsumsi masyarakat.
Pengamat ekonomi Universitas Bosowa (Unibos), Dr. Lukman Setiawan, menilai Piala Dunia 2026 memiliki karakter berbeda karena berlangsung di tiga negara sekaligus, yakni Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada.
“Piala Dunia 2026 ini beda karena tuan rumahnya tiga negara, yakni Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada. Jadi efeknya ke Indonesia tidak langsung seperti ketika tuan rumah berada di kawasan Asia. Namun tetap ada efek bola terhadap perekonomian,” ujarnya, Selasa (9/6)
Piala Dunia Gerakkan Ekonomi Sektor Hiburan
Lukman menjelaskan, aktivitas ekonomi yang berkaitan dengan hiburan berpotensi meningkat selama turnamen berlangsung.
Kafe, restoran, warung kopi, dan penyelenggara nonton bareng diperkirakan akan menikmati lonjakan pengunjung, terutama saat pertandingan besar digelar.
“Nobar di kafe, restoran, warkop, atau lapangan bisa membuat omzet naik dua hingga tiga kali lipat saat pertandingan besar berlangsung. Penjualan makanan, kopi, hingga rokok biasanya ikut meningkat,” katanya.
Selain itu, pelaku usaha kuliner dan pedagang makanan ringan juga berpotensi menikmati peningkatan penjualan selama perhelatan berlangsung.
Penjualan Elektronik dan Merchandise Diprediksi Naik
Menurut Lukman, masyarakat biasanya meningkatkan belanja untuk kebutuhan menonton pertandingan, mulai dari televisi hingga perangkat audio.
Kondisi tersebut membuka peluang bagi pelaku usaha elektronik untuk meningkatkan penjualan selama Piala Dunia berlangsung.
“Orang rela mengganti televisi atau membeli perangkat baru agar bisa menikmati pertandingan dengan kualitas yang lebih baik,” tambahnya.
Di sisi lain, pelaku UMKM konveksi dan penjual merchandise juga berpotensi memperoleh tambahan pendapatan dari meningkatnya permintaan jersey dan atribut sepak bola.
Industri Media dan Iklan Ikut Menikmati Dampak
Lukman menilai industri media dan platform digital juga akan memperoleh keuntungan dari tingginya minat masyarakat mengikuti Piala Dunia.
Perusahaan biasanya meningkatkan anggaran promosi untuk memanfaatkan tingginya jumlah penonton selama turnamen berlangsung.
“TV, platform streaming, dan media digital biasanya kebanjiran iklan. Dana iklan itu kemudian berputar ke berbagai sektor, mulai dari media, pekerja kreatif, hingga pelaku UMKM,” jelasnya.
Selain itu, ia menilai performa Timnas Indonesia juga dapat memengaruhi tingkat optimisme masyarakat.
“Kalau Timnas lolos dan bermain bagus, sentimen konsumen biasanya ikut naik. Orang menjadi lebih optimistis dan lebih berani membelanjakan uangnya,” ujarnya.
Daya Beli Berpotensi Bergeser
Meski demikian, Lukman mengingatkan bahwa Piala Dunia tidak selalu menciptakan konsumsi baru. Sebaliknya, masyarakat cenderung mengalihkan pengeluaran ke aktivitas hiburan dan kebutuhan terkait sepak bola.
“Efek Piala Dunia lebih banyak mengalihkan konsumsi daripada menciptakan uang baru. Ketika uang digunakan untuk hiburan, maka belanja kebutuhan lain bisa berkurang,” katanya.
Akibatnya, sektor manufaktur, toko kelontong, dan usaha yang tidak terhubung langsung dengan momentum Piala Dunia berpotensi mengalami perlambatan penjualan.
Produktivitas Pekerja Bisa Menurun
Lukman juga menyoroti potensi penurunan produktivitas tenaga kerja akibat jadwal pertandingan yang berlangsung pada dini hari waktu Indonesia.
Menurutnya, kurangnya waktu istirahat dapat memengaruhi kinerja pekerja, terutama di sektor industri dan manufaktur.
“Pertandingan yang berlangsung dini hari berpotensi membuat pekerja kurang istirahat. Dampaknya bisa terlihat pada produktivitas kerja, terutama di sektor industri dan manufaktur,” jelasnya.
Dampak Ekonomi Nasional Tetap Terbatas
Meski sejumlah sektor menikmati peningkatan aktivitas ekonomi, Lukman memperkirakan dampak Piala Dunia terhadap perekonomian nasional tidak terlalu besar.
Ia menilai sektor hotel, kafe, kuliner, elektronik, dan konveksi akan menjadi penerima manfaat utama. Sementara itu, sektor manufaktur dan perdagangan umum cenderung mengalami dampak netral hingga negatif.
“Secara makro, dampaknya terhadap ekonomi nasional tidak terlalu besar, mungkin hanya sekitar 0,1 hingga 0,3 persen terhadap PDB. Tidak sebesar negara yang menjadi tuan rumah,” katanya.
Pelaku Usaha Diminta Manfaatkan Momentum
Karena itu, Lukman mendorong pelaku usaha untuk memanfaatkan momentum Piala Dunia dengan menghadirkan produk dan layanan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
“Kalau bisa, pelaku usaha ikut memanfaatkan momentum, misalnya menjual paket nobar, menyewakan proyektor, atau menyediakan makanan dan minuman pendukung,” ujarnya.
Sebaliknya, pelaku usaha yang tidak berkaitan langsung dengan momentum tersebut perlu menjaga efisiensi dan mengelola stok secara lebih hati-hati.
Selain itu, Lukman mengingatkan adanya potensi perlambatan konsumsi setelah turnamen berakhir.
“Biasanya setelah Piala Dunia selesai, konsumsi masyarakat bisa melambat selama satu hingga dua bulan karena sebagian pengeluaran sudah digunakan selama turnamen berlangsung,” pungkasnya. (Ag)







