Lintaskabar.id, Makassar – Dalam rangka memperingati Dies Natalis ke-60, Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar, Prof.Hamdan Juhannis membagikan kisah-kisah inspiratif yang mengundang tawa, haru, sekaligus perenungan mendalam mengenai pentingnya perspektif dan kekuatan narasi dalam menghadapi kehidupan.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Dalam pidatonya, Rektor mengawali dengan sebuah kisah tentang sepucuk surat dari seorang mahasiswi kepada ayahnya di kampung. Surat itu diawali dengan cerita dramatis mulai dari jatuh dari lantai empat, patah tulang belakang, hingga hamil yang ternyata hanya rekaan semata.

Semua itu dilakukan sang mahasiswi agar ayahnya siap menerima kenyataan sebenarnya: bahwa ia tidak lulus satu pun mata kuliah.

“Begini, Ayah, saya sebenarnya tidak jatuh, tidak patah tulang, tidak tinggal dengan siapa pun, dan saya juga tidak hamil. Saya hanya ingin Ayah tahu, saya tidak lulus satu mata kuliah pun,” tutur Prof. Hamdan menirukan isi surat tersebut, Selasa kemarin.

Melalui kisah ini, Rektor menekankan makna perspektif positif. Sang ayah, yang semula diharapkan marah, justru merasa lega dan bersyukur mengetahui kenyataan sebenarnya. Alih-alih kecewa, ia memilih untuk menerima dengan lapang dada suatu bentuk kebijaksanaan yang lahir dari perubahan sudut pandang.

Prof. Hamdan kemudian melanjutkan dengan kisah lain tentang penemu besar Thomas Alva Edison. Dikisahkannya, ketika kecil Edison pernah dinyatakan mengalami keterbelakangan mental dan tidak diperbolehkan bersekolah. Namun, ibunya memilih membacakan versi surat yang berbeda dari pihak sekolah:

“Anak Ibu adalah seorang jenius. Sekolah ini terlalu kecil untuknya. Silakan ajari dia sendiri di rumah,” ujar sang Rektor mengutip kisah tersebut.

Bertahun-tahun kemudian, Edison menemukan surat asli dan menyadari ibunya telah menyembunyikan kebenaran demi menumbuhkan keyakinan dan semangat dalam dirinya. Kebohongan penuh cinta itu, tulis Edison dalam jurnalnya, telah mengubah jalan hidupnya.

Mengakhiri pidatonya, Prof. Hamdan mengangkat sebuah kompas di hadapan para hadirin. Ia menegaskan bahwa kompas tidak tertarik pada masa lalu atau badai yang telah berlalu, melainkan hanya menunjukkan satu hal: arah ke depan.

“Kompas hanya tertarik menunjuk arah. Dan arah kita adalah ke depan menuju masa depan, menuju peradaban global,” tegasnya.

Dengan semangat tersebut, UIN Alauddin Makassar di usia ke-60 bertekad terus bertransformasi menjadi kampus unggulan bertaraf internasional, membangun perspektif positif, serta berperan aktif dalam pengembangan ilmu, peradaban, dan kontribusi global. (Ag)