MAKASSAR — Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin menyampaikan berbagai program unggulan pembangunan kota dalam Seminar Internasional “Competitive Generations” yang digelar dalam rangka Dies Natalis Universitas Bosowa, Selasa (30/9).

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Dalam paparannya, Munafri menekankan bahwa pesatnya pertumbuhan Makassar sebagai kota besar membawa tantangan yang harus dihadapi dengan strategi pembangunan berkelanjutan. Isu kemacetan, parkir liar, dan masalah sosial lainnya menjadi perhatian utama pemerintah kota.

“Makassar akan terus berkembang, tetapi kita harus siap menghadapi tantangan yang datang. Setiap masalah harus kita hadapi dengan solusi nyata,” ujar Munafri.

Ia juga menyoroti pentingnya menciptakan ruang ketiga bagi anak muda, tempat untuk berekspresi, berinteraksi, serta mengembangkan kreativitas. Menurutnya, pembangunan ruang publik yang kreatif adalah bagian dari upaya menjaga daya saing generasi muda.

Selain itu, Munafri menekankan bahwa Makassar membutuhkan stadion yang representatif agar dapat menjadi tuan rumah untuk event olahraga nasional dan internasional.

“PSM Makassar sering berpartisipasi dalam turnamen internasional, tetapi kami belum bisa menjadi tuan rumah karena stadion kita belum memadai. Stadion modern akan mendukung olahraga, perekonomian, dan citra Makassar yang lebih baik,” tambahnya.

Dalam kesempatan itu, Munafri mengapresiasi Universitas Bosowa yang telah menyediakan platform akademik untuk membahas tema pembangunan generasi yang kompetitif.

Ia juga menegaskan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dan masyarakat untuk mewujudkan pembangunan kota yang lebih baik.

“Pembangunan kota hanya dapat tercapai jika semua pihak bergerak bersama. Terima kasih kepada Universitas Bosowa atas kerja samanya,” ujarnya.

Munafri juga menekankan pentingnya penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) sebagai acuan pembangunan kota. Dengan jumlah penduduk yang mencapai 1,4 juta jiwa dan posisi strategis sebagai pintu gerbang Kawasan Timur Indonesia, Makassar harus segera memiliki pedoman tata ruang yang jelas.

“Tidak ada lagi pembangunan yang tidak sesuai dengan zonasi. Tahun depan, insya Allah RDTR akan selesai,” tambahnya.

Ia juga mengungkapkan strategi ekonomi Makassar yang berfokus pada perdagangan, jasa, dan investasi. Pemkot Makassar menargetkan untuk menggelar event besar setiap bulan dengan minimal 10 ribu peserta, dengan dukungan insentif sebesar Rp5 miliar untuk penyelenggara.

“Kami ingin hotel-hotel penuh, UMKM berkembang, pariwisata meningkat, dan perekonomian warga terdongkrak,” tambahnya.

Selain mengandalkan wisata pantai, Pemkot juga mulai mengembangkan wisata sungai dan event internasional. Ide tersebut bahkan telah ia presentasikan dalam forum wali kota dunia di Vienna, Austria.

Munafri menutup paparan dengan visi menjadikan Makassar sebagai kota unggul, inklusif, aman, dan berkelanjutan, serta menjadi pusat kolaborasi di Kawasan Timur Indonesia.

Penulis: Ardhi