MAKASSAR — Prof. Dr. Sukardi Weda, Guru Besar Universitas Negeri Makassar (UNM), dan Zulfajri Basri Hasanuddin telah mendaftar sebagai calon rektor Universitas Hasanuddin (Unhas) untuk periode 2026–2030.
Pendaftaran berlangsung di Ruang Rapat A, Gedung Rektorat Unhas, Kampus Tamalanrea, Makassar. Prof. Sukardi hadir didampingi keluarga, termasuk istri, anak, serta sejumlah mahasiswa UNM yang memberikan dukungan moral terhadap pencalonannya.
Dalam penjelasannya, Prof. Sukardi mengungkapkan bahwa keputusannya untuk maju sebagai calon Rektor Unhas didorong oleh kecintaannya yang mendalam terhadap universitas ini. Ia menyebutkan bahwa hubungan emosionalnya dengan Unhas telah terjalin sejak dirinya menjadi mahasiswa pada tahun 1989.
“Setiap kali mendengar Mars Unhas, saya selalu merasa terharu, bahkan sampai meneteskan air mata. Unhas adalah kampus yang sangat saya cintai. Saya pertama kali menjadi mahasiswa di sini pada 1989, mencoba mendaftar sebagai dosen pada 1999, meskipun tidak diterima. Saya bahkan pernah mencoba sebagai tenaga kependidikan, dan kini ini adalah kali kelima saya mendaftar di Unhas,” ujarnya.
Prof. Sukardi menegaskan bahwa meskipun ia kini berafiliasi dengan kampus lain, hatinya tetap “merah” sebagai wujud kecintaan terhadap Unhas. Ia juga mengucapkan terima kasih kepada Unhas yang telah memberi kesempatan baginya untuk turut serta dalam pemilihan rektor.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa niatnya untuk maju bukan hanya karena alasan pribadi, melainkan juga karena keyakinannya bahwa Unhas membutuhkan pemimpin dengan visi yang besar.
“Saya percaya Unhas harus dipimpin oleh sosok dengan jiwa dan visi yang segar. Sebagai perguruan tinggi besar dengan sumber daya manusia (SDM), profesor, serta potensi riset yang luar biasa, Unhas berhak menjadi pemimpin global. Unhas tidak hanya harus menjadi World Class University, tetapi juga berperan penting dalam memperkuat internasionalisasi pendidikan tinggi Indonesia,” tegasnya.
Sementara itu, Zulfajri, pendaftar keenam, mengungkapkan bahwa pencalonannya bukan sekadar formalitas, tetapi didasari oleh ikatan emosional yang kuat dengan Unhas.
“Unhas adalah salah satu perguruan tinggi yang sangat dihormati dan telah masuk dalam Top 1000 universitas dunia,” ujarnya.
Sebagai alumni Unhas, Zulfajri juga menyampaikan hubungan historisnya dengan universitas ini, mengingat Mars Unhas diciptakan oleh pamannya, Hamzah Daeng Mangemba (HD Mangemba).
“Keputusan untuk maju sebagai calon Rektor Unhas adalah kemauan pribadi saya, bukan karena ada dukungan dari pihak tertentu,” tambahnya.
Zulfajri, yang merupakan putra dari Prof. Basri Hasanuddin, mantan Rektor Unhas selama dua periode, juga menegaskan bahwa ia selalu mencantumkan logo Unhas setiap kali berbicara di hadapan publik, sebagai bentuk kecintaannya terhadap universitas tersebut.
Dengan pengalaman sebagai anggota Dewan Riset Nasional (DRN) pada periode 2012–2018 dan berbagai jabatan lainnya, seperti Dekan Fakultas Teknik Universitas Sulawesi Barat (Unsulbar) dan Wakil Rektor I Unsulbar, Zulfajri berkomitmen untuk membawa Unhas menuju kemajuan dengan visi jangka panjang, terutama dalam menghadapi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
“Jika terpilih, saya akan memperkenalkan gagasan baru untuk memajukan Unhas di kancah global,” tutupnya.
Penulis: Amriadi







