MAKASSAR — Ketua Tim Penggerak PKK Kota Makassar, Melinda Aksa menegaskan komitmennya untuk melestarikan wastra daerah sekaligus memperkuat kapasitas para penjahit lokal melalui program pengembangan dan pendampingan usaha busana lokal.
Komitmen tersebut disampaikan Melinda dalam acara Pengembangan dan Pendampingan Usaha Busana Lokal yang digelar di Ruang Sipakatau, Balai Kota Makassar, Selasa (29/7).
Kegiatan ini merupakan bagian dari Pokja III, sebagai bentuk dukungan kepada para penjahit lokal di Kota Makassar yang memiliki potensi besar untuk bersaing di tingkat nasional bahkan internasional.
Dalam sambutannya, Melinda menekankan betapa pentingnya pelestarian serta pengembangan busana lokal sebagai bagian dari identitas budaya dan kreativitas masyarakat Makassar. Kota Makassar dikenal memiliki kekayaan wastra dan motif busana khas Bugis-Makassar yang sangat berharga.
“Busana lokal mencerminkan budaya, identitas, dan kreativitas daerah. Kota Makassar memiliki kekayaan wastra seperti tenun sutra, songket, dan motif khas Bugis-Makassar yang penuh makna. Potensi ini sangat besar dan harus terus didorong melalui inovasi dan pendampingan berkelanjutan,” ungkap Melinda.
Meski demikian, Melinda juga mengakui banyak pelaku usaha busana lokal yang masih menghadapi berbagai kendala, seperti keterbatasan modal, akses pemasaran digital yang rendah, serta minimnya pelatihan untuk meningkatkan kualitas produk mereka.
Oleh karena itu, kegiatan ini dirancang sebagai wadah untuk berbagi ilmu dan memperluas jaringan, agar para pelaku usaha fesyen lokal tidak hanya bisa bertahan, tapi juga mampu tumbuh dan berkembang secara berkelanjutan.
“Kami berharap para pelaku usaha busana lokal mendapatkan ilmu, motivasi, serta jejaring baru untuk mengembangkan usahanya, mulai dari desain, pemasaran digital, hingga manajemen usaha yang berorientasi pada keberlanjutan,” jelasnya.
Melinda juga memberikan apresiasi khusus kepada Kelompok Kerja (Pokja) III TP PKK Kota Makassar sebagai penggagas dan pelaksana acara ini. Ia menilai inisiatif tersebut merupakan langkah nyata dalam mendukung tumbuhnya perempuan pelaku usaha yang mandiri, kreatif, dan berdaya saing.
Dia mengingatkan pentingnya kolaborasi antara pelaku usaha, pemerintah, dan lembaga keuangan dalam mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif lokal. Melinda berharap kegiatan serupa dapat rutin diadakan secara berkelanjutan.
“Mari kita jadikan acara ini sebagai wujud nyata PKK Kota Makassar dalam mendukung lahirnya pelaku usaha perempuan yang mandiri, kreatif, dan berdaya saing. Kami ingin Makassar menjadi pusat busana lokal yang kuat, membanggakan, dan menjadi wajah kreativitas perempuan Indonesia,” tutup Melinda.
Acara ini juga menghadirkan dua narasumber berkompeten dari berbagai bidang. Salah satunya adalah Marhuma Umar, Pemimpin Departemen Kredit Ritel Bank Sulselbar, yang memaparkan berbagai peluang pembiayaan bagi pelaku UMKM, khususnya di sektor fesyen lokal.
Marhuma menguraikan skema pembiayaan yang dapat diakses oleh pelaku usaha kecil, persyaratan yang harus dipenuhi, serta tips agar UMKM lebih siap secara administrasi dan keuangan dalam memperoleh dukungan modal dari Bank Sulselbar.
Selain itu, TP PKK menghadirkan desainer nasional sekaligus pemilik Butik Luthfia, yang berbagi pengalaman membangun tenun Sekomandi hingga mampu menembus pasar nasional dan internasional di Paris. Ia juga memberikan pelatihan singkat tentang tren fesyen, teknik branding, serta strategi memaksimalkan potensi lokal agar produk memiliki daya jual tinggi.
Menariknya, desainer tersebut membawa langsung beberapa koleksi busana karyanya yang dipamerkan kepada peserta dan bahkan dibagikan kepada sejumlah pelaku usaha sebagai bentuk motivasi.
Penulis: Anugrah







