MAKASSAR — Putusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang memisahkan jadwal pemilu nasional dan pemilihan kepala daerah (pilpres/pileg dan pilkada) menuai kritik tajam dari akademisi Universitas Hasanuddin.
Pengamat politik Unhas, Hasrullah, menyebut keputusan itu sebagai bentuk pengkhianatan terhadap semangat demokrasi.
“Kenapa orang melakukan seperti itu? Berarti ada pengkhianatan terhadap demokrasi,” tegas Hasrullah, Rabu (16/7).
Menurutnya, desain pemilu serentak yang sebelumnya diberlakukan memberikan ruang kepada rakyat untuk memilih secara lebih jernih dan adil.
“Kalau mau bagus, ya seperti dulu. Ada pemilihan bupati sendiri, pemilihan gubernur sendiri. Orang bisa berpikir jernih, tidak dimobilisasi,” ujarnya.
Hasrullah menilai, pemisahan pemilu bukan untuk memperkuat demokrasi, melainkan demi kepentingan memenangkan segelintir pihak.
Ia menuding bahwa sistem pemilu yang tidak tepat justru memunculkan calon pemimpin yang populer karena uang dan iklan, bukan karena kualitas kepemimpinan.
“Yang penting banyak iklannya, banyak uangnya. Bukan ‘the right man in the right place’. Itu yang terjadi sekarang,” tambahnya.
Ia menekankan pentingnya kajian mendalam sebelum menentukan sistem pemilu ke depan. “Jangan hanya karena kepentingan golongan dan politik, lalu sistem diputuskan begitu saja. Panggil lembaga-lembaga netral, UGM, UI, Unhas, LSM, biar representatif,” katanya.
Dalam pandangannya, keputusan-keputusan besar seperti ini harus mempertimbangkan visi jangka panjang bangsa, bukan sekadar akomodasi politik jangka pendek.
“Kita butuh negarawan, bukan pencari kekuasaan,” ujarnya.
Hasrullah juga mengkritisi Mahkamah Konstitusi yang ia anggap tidak independen sepenuhnya. “Hakim di MK juga harus paham bahwa mereka sedang menjaga fondasi negara. Jangan sampai karena dipilih oleh kekuatan politik, mereka tunduk pada kepentingan politik itu,”tegasnya.
Ia menutup dengan peringatan keras bahwa Indonesia bisa makin tertinggal jika sistem pemilunya terus dikuasai oleh kepentingan jangka pendek. “Kita sudah tertinggal dari Cina dan Korea. Jangan terus-terusan begini,” katanya.
Penulis: Natan







