Lintaskabar.id, Jakarta – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat hujan dengan intensitas ringan hingga lebat melanda sebagian besar wilayah Indonesia dalam beberapa hari terakhir.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Bahkan, hujan sangat lebat terjadi di sejumlah daerah, antara lain Makassar dengan curah hujan 126,7 mm per hari, Jawa Barat 129,0 mm, Nusa Tenggara Timur 126,0 mm, dan Bali 120,0 mm.

Monsoon Asia Picu Konvergensi dan Hujan Lebat

BMKG menjelaskan bahwa penguatan Monsoon Asia memicu peningkatan kecepatan angin dari Laut Cina Selatan yang bergerak ke arah selatan melalui Selat Karimata hingga Pulau Jawa. Aliran angin tersebut membentuk daerah konvergensi di sepanjang Pulau Jawa, Bali, hingga Nusa Tenggara Barat, sehingga mendorong pertumbuhan awan hujan secara intensif.

Selain itu, daerah tekanan rendah di wilayah timur Australia ikut memengaruhi sirkulasi angin regional. Sistem ini mengarahkan aliran angin di Indonesia bagian selatan bergerak lebih dominan ke arah timur. Kondisi tersebut memperkuat perlambatan massa udara dan meningkatkan proses naiknya udara, sehingga potensi hujan lebat meluas di wilayah Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara.

Dinamika Global dan Regional Masih Berpengaruh

Memasuki sepekan ke depan, BMKG memprakirakan dinamika atmosfer global, regional, dan lokal tetap berpengaruh signifikan terhadap cuaca di Indonesia. Pada skala global, fenomena El Niño–Southern Oscillation (ENSO) berada pada fase negatif atau La Niña lemah, yang meningkatkan pasokan uap air bagi pembentukan awan hujan.

Sementara itu, suhu muka laut yang relatif hangat di sejumlah perairan Indonesia turut memperkaya kandungan uap air di atmosfer. BMKG juga memantau aktivitas Madden–Julian Oscillation (MJO) yang aktif melintasi Kalimantan, Sulawesi, Maluku Utara, hingga Papua, sehingga berpotensi meningkatkan pertumbuhan awan hujan di wilayah tersebut.

Bibit Siklon dan Gelombang Ekuator Perkuat Potensi Hujan

BMKG mengamati kombinasi MJO dengan Gelombang Kelvin dan Gelombang Rossby Ekuator yang aktif di wilayah Laut Sulu, Samudera Pasifik utara Halmahera hingga Papua, serta Laut Arafuru. Kombinasi ini meningkatkan aktivitas konvektif dan memperbesar peluang terjadinya hujan.

Selain itu, BMKG mendeteksi keberadaan bibit siklon 91W di Samudera Pasifik utara Papua dengan kecepatan angin maksimum 15 knot dan tekanan udara minimum 1007 hPa. Bersamaan dengan itu, daerah konvergensi memanjang di sejumlah wilayah Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Maluku Utara, hingga Papua, yang mendorong pembentukan awan hujan di sekitarnya.

Prospek Cuaca 13–19 Januari 2026

Pada periode 13–15 Januari 2026, BMKG memprakirakan hujan ringan hingga lebat mendominasi cuaca di Indonesia. BMKG juga mewaspadai peningkatan hujan dengan intensitas sedang di sejumlah wilayah Sumatera, Jawa, Bali, Kalimantan, Sulawesi, Maluku Utara, dan Papua.

BMKG menetapkan status siaga hujan lebat hingga sangat lebat di Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, NTB, NTT, dan Papua Pegunungan. Selain itu, BMKG memprakirakan angin kencang berpotensi terjadi di berbagai wilayah Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, hingga Papua.

Selanjutnya, pada periode 16–19 Januari 2026, hujan ringan hingga lebat masih berpotensi terjadi. BMKG kembali menetapkan status siaga hujan lebat di Sumatera Barat, Jawa Timur, NTT, dan Papua Pegunungan, disertai potensi angin kencang di sejumlah wilayah. (Zi)