MAKASSAR — Di tengah ketidakpastian global, ekonomi Indonesia masih menunjukkan ketangguhannya.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Pengamat Ekonomi Universitas Bosowa, Lukman Setiawan, menyebut perekonomian nasional berhasil tumbuh stabil pada kuartal I 2025 dengan capaian 4,87%.

Pertumbuhan ini sebagian besar ditopang oleh konsumsi rumah tangga yang mencapai 54,5% dari total Produk Domestik Bruto (PDB).

Tak hanya itu, inflasi juga terjaga di level rendah. Data menunjukkan inflasi nasional 1,95% dengan inflasi inti sekitar 2,5%.

“Ini menandakan daya beli masyarakat masih terjaga meski dunia dihantam gejolak,” kata Lukman.

Namun, Lukman mengingatkan bahwa sejumlah tantangan tetap perlu diwaspadai seperti kebijakan moneter ketat di AS dan Eropa bisa menekan aliran modal ke negara berkembang.

Turunnya harga komoditas utama seperti minyak, batu bara, dan nikel memberi tekanan pada penerimaan negara.

Investasi yang lesu, dengan pertumbuhan Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) hanya 2,12% pada kuartal pertama.

Meski begitu, Lukman menilai ada ruang optimisme yang bisa dimaksimalkan Indonesia, antara lain:

1. APBN yang sehat dan hati-hati. Pada kuartal pertama 2025, tercatat surplus fiskal Rp4,3 triliun atau setara 0,02% PDB.

2. Ekspor berpotensi meningkat dengan pengurangan tarif dagang antara AS dan Tiongkok.

3. Fokus investasi di sektor strategis yang jadi prioritas pemerintah untuk mendorong pertumbuhan jangka panjang.

Lukman juga menyoroti dampak politik dalam negeri, khususnya pergantian Menteri Keuangan.

Menurutnya, perubahan figur di kursi menteri pasti membawa gaya kebijakan baru yang bisa berdampak pada stabilitas ekonomi.

“Yang terpenting adalah konsistensi arah kebijakan. Jangan sampai terjadi guncangan. Apalagi, posisi Indonesia kini juga diperhatikan oleh lembaga internasional seperti IMF, sekaligus berada dalam dinamika kerja sama BRICS,” tegasnya.

Penulis: Amriadi