MAKASSAR — PDAM Makassar kembali menunjukkan kekuatannya setelah mampu bertransformasi dalam waktu singkat.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Hanya dalam tiga bulan, perusahaan air minum milik Pemkot Makassar ini berhasil menghapus kerugian Rp5,2 miliar dan mencatatkan laba bersih Rp826 juta.

Capaian gemilang ini bukan sekadar angka, tetapi juga hasil dari pembenahan manajemen, efisiensi anggaran, serta perbaikan pelayanan kepada pelanggan.

Perubahan besar ini diumumkan oleh Plt Direktur Utama PDAM Makassar, Hamzah Ahmad, bersama Plt Direktur Keuangan, Nanang Supriyatno, dalam peringatan HUT ke-101 PDAM yang digelar di Aula Kantor PDAM Makassar.

Hamzah Ahmad mengungkapkan bahwa perbaikan kinerja mulai terlihat sejak dirinya dilantik pada akhir April 2025. “Saat kami masuk, perusahaan mengalami kerugian Rp5,2 miliar. Namun, pada Juli, kami berhasil membukukan laba bersih sebesar Rp826 juta,” jelasnya.

Keberhasilan ini, menurut Hamzah, tidak lepas dari arahan Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, yang menekankan pentingnya pembenahan di tubuh perusahaan daerah. Wali Kota berharap PDAM bisa bangkit dari kerugian besar dan terus berinovasi untuk pelayanan publik yang lebih baik.

Salah satu faktor kunci keberhasilan tersebut adalah penurunan angka Non-Revenue Water (NRW) dari 52% menjadi 45%. Perbaikan ini dicapai dengan mempercepat penanganan kebocoran, dimana lebih dari 2.000 titik pipa berhasil diperbaiki, termasuk pipa induk berdiameter 630 mm di Jalan Beringin, Kabupaten Gowa.

Hasilnya, 3.114 sambungan rumah yang sebelumnya tidak teraliri air kini kembali mendapatkan pasokan. Selain itu, hampir 500 pengaduan pelanggan berhasil diselesaikan dan lebih dari 600 sambungan gratis program MULIA (Masyarakat Umum Layak Air) terealisasi di berbagai wilayah.

Hamzah juga menyoroti langkah distribusi air bersih yang lebih efisien ke wilayah utara dan timur Makassar, dengan rampungnya proyek koneksi pipa Pa’baeng-baeng berdiameter 700 mm ke 350 mm. “Proyek ini diharapkan dapat meningkatkan cakupan pelayanan air bersih, terutama saat musim kemarau,” harapnya.

Selain itu, beban biaya pegawai yang semula 36% dari pendapatan kini turun menjadi 27%. Pendapatan operasional dari rekening air pada Juli mencapai Rp30,4 miliar—tertinggi sepanjang 2025—berkat pencatatan meter air yang lebih akurat dan penegakan disiplin di kalangan petugas baca meter.

Hamzah menegaskan bahwa komitmen PDAM Makassar adalah untuk menjaga tren positif ini dan memastikan pemerataan akses air bersih di seluruh wilayah Makassar.

Sementara itu, Plt Direktur Keuangan Nanang Supriyatno menjelaskan bahwa pencapaian luar biasa ini juga berkat efisiensi anggaran yang diterapkan secara ketat. Salah satu langkah strategis yang dilakukan adalah memangkas anggaran kegiatan lain-lain dari Rp2,5 miliar menjadi Rp1 miliar.

Nanang juga mengungkapkan adanya penataan ulang tenaga kerja agar lebih efisien dan sesuai dengan jumlah pelanggan. Jumlah karyawan yang semula 1.431 orang kini menjadi 1.295 orang, dengan sambungan aktif mencapai 183.936 pelanggan. Rasio karyawan terhadap sambungan turun dari 1:7,78 menjadi 1:6,68, menunjukkan efisiensi yang signifikan meskipun belum mencapai rasio ideal 1:200 sesuai regulasi Kemendagri.

Efisiensi ini juga berdampak pada penurunan beban biaya pegawai, dari 36% pada awal tahun menjadi 27% pada Juli 2025. Struktur keuangan PDAM pun kini lebih sehat.

Pendapatan operasional dari rekening air juga mengalami lonjakan signifikan. Juli lalu, PDAM Makassar mencatatkan pemasukan Rp30,4 miliar—tertinggi sepanjang 2025. Lonjakan ini tak hanya karena kenaikan tarif, tapi juga karena pencatatan meter air yang lebih akurat dan penegakan disiplin di kalangan petugas baca meter.

“Kami menerapkan sistem penalti bagi petugas baca meter yang lalai. Ada yang dipotong gajinya hingga Rp5 juta, ada yang diturunkan statusnya, bahkan ada yang dirumahkan enam bulan,” terang Nanang.

Dengan capaian ini, PDAM Makassar optimis bisa terus mempertahankan kinerja positif dan terus meningkatkan kualitas layanan air bersih di seluruh kota.

Penulis: Ardhi